Selamat Datang

Selamat Pagi Teman, Semoga Kita Selalu Di Berikan Kesehatan Semangat Kesuksesan dan Keberuntungan - Rikky Suryadi.

Kandang, Cage, Gex, Terrarium.

Menjual Beraneka Kandang, Cage, Gex, Terrarium, dan lain-lain. Bila Ada Pertanyaan Langsung saja sms ke 0852 6668 2211 atau invite PIN BB 27fcb90c - Rikky Suryadi.

Accessories Hamster Mini dan Lain-Lain

Menjual Beraneka Accessories Hamster, mulai dari Jogging Biasa, Jogging Ball, Vitamin, Kuaci, dll. Bila Ada Pertanyaan Langsung saja sms ke 0852 6668 2211 atau invite PIN BB 27fcb90c - Rikky Suryadi

Campbell, Roborosky, Winter White

Menjual Beraneka Jenis Hamster Mini. Menerima order Luar Kota(partai) . Bila Ada Pertanyaan Langsung saja sms ke 0852 6668 2211 atau invite PIN BB 27fcb90c - Rikky Suryadi

Hamster Disini Hanyalah Hamster Yang Terbaik dan Pastinya Jinak.

Bila Ada Pertanyaan Langsung saja sms ke 0852 6668 2211 atau invite PIN BB 27fcb90c - Rikky Suryadi

Tampilkan postingan dengan label Info Reptile. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Info Reptile. Tampilkan semua postingan

Selasa, 27 Mei 2014

7 Jenis Buaya di Indonesia

Buaya adalah nama Indonesia untuk menyebutkan jenis reptil yang berasal dari famili atau suku Crocodylidae. Selain buaya, reptil ini juga dikenal dengan nama nama yang berbeda di daerah daerah di Indonesia. Orang Sunda atau Banjar menyebutnya buhaya, di Jawa Tengah & Timur reptil ini disebut baya atau bajul, di Betawi disebut bekikok, bekatak, buaya katak (buaya yang bertubuh kecil gemuk), senyulong, buaya jolong jolong (Melayu). Dalam bahasa Inggris buaya disebut crocodile. Buaya termasuk hewan purba yang hanya mengalami sedikit perubahan evolusi semenjak zaman dinosaurus. Boleh dikatakan, buaya yang ada saat ini dengan yang ada pada zaman dinosaurus dulu relatif tidak jauh berbeda atau berubah.

Berbagai macam jenis (spesies) buaya termasuk spesies buaya di Indonesia memiliki ciri ciri yang hampir sama. Pada umumnya habitat buaya adalah di perairan air tawar seperti danau, rawa dan sungai, tapi ada juga jenis buaya yang hidup di air payau seperti buaya muara. Buaya adalah pemangsa yang menyergap mangsanya. Buaya menunggu mangsanya mendekat lalu akan menerkamnya dengan tiba tiba. 

Makanan buaya meliputi ikan, unggas dan beberapa mamalia. Selain mampu bergerak dengan cepat dan tiba tiba, buaya juga mempunyai rahang yang memiliki kemampuan mencengkeram yang sangat kuat. Tekanan gigitan rahang buaya dipercaya sebagai yang terkuat. Tetapi ironisnya, otot otot yang berfungsi untuk membuka mulut buaya sangat lemah. Pada satu percobaan terbukti bahwa buaya tidak mampu membuka mulutnya yang sudah diplester dengan beberapa lilitan saja.

Dari semua spesies buaya di dunia, di Indonesia terdapat 7 spesies buaya, antara lain adalah:

1. Buaya muara (Crocodylus porosus).
Crocodylus porosus

Buaya muara adalah spesies buaya yang paling sering ditemukan di Indonesia. Buaya muara adalah spesies buaya yang terbesar, terpanjang dan terganas di antara jenis jenis buaya lainnya di dunia. Buaya muara juga memiliki habitat persebaran yang sangat luas, bahkan terluas dibandingkan spesies buaya lainnya. Buaya muara dapat ditemukan mulai dari Teluk Benggala (India, Sri Langka dan Bangladesh) hingga Kepulauan Fiji. Indonesia adalah habitat favorit buaya muara selain Australia.



2. Buaya siam atau buaya air tawar (Crocodylus siamensis).

Siamese Crocodile

Buaya jenis ini sudah termasuk dalam daftar Critically Endangered atau kritis. Buaya Siam diperkirakan berasal dari Siam. Buaya siam selain di Indonesia dapat dijumpai pula di Thailand, Vietnam, Malaysia, Laos dan Kamboja. Di Indonesia, buaya siam hanya terdapat di Jawa dan Kalimantan.






3. Buaya Irian (Crocodylus novaeguineae).
Crocodylus Novaeguineae

Buaya Irian hanya terdapat di kepulauan Irian di Indonesia dan Papua Nugini. Bentuk tubuh buaya yang hidup di air tawar ini mirip dengan buaya muara tapi memiliki ukuran tubuh yang lebih kecil dan berwarna lebih hitam.






4. Buaya Kalimantan (Crocodylus raninus).

C. Raninus
Buaya Kalimantan mempunyai ciri ciri yang mirip dengan buaya muara. Karena sebab inilah buaya yang hanya dapat ditemui di Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan ini statusnya masih menjadi perdebatan para ahli.






5. Buaya Mindoro (Crocodylus mindorensis).

Mindoro
Buaya Mindoro berada dalam status Critically Endangered. Buaya ini awalnya termasuk anak jenis (subspesies) dari buaya Irian (Crocodylus novaeguineae) tapi sekarang buaya ini di anggap sebagai jenis tersendiri. Buaya mindoro di Indonesia dapat ditemukan di Sulawesi bagian timur dan Sulawesi bagian tenggara.







6. Buaya senyulong (Tomistoma schlegelii).


Buaya senyulong tersebar di Sumatera, Kalimantan dan Jawa. Buaya senyulong memiliki perbedaan yang unik dibandingkan dengan jenis buaya lainnya yaitu moncongnya yang relatif sempit.










7. Buaya sahul (Crocodylus novaeguineae).

Buaya Sahul
Buaya sahul sebenarnya masih dianggap satu jenis dengan buaya Irian, tapi oleh beberapa ahli taksonomi, buaya sahul yang hanya tersebar di Papua bagian selatan ini diusulkan untuk dijadikan spesies tersendiri.

Dari jenis jenis buaya yang ada di Indonesia,empat jenis buaya diantaranya, (Buaya Irian, Buaya Muara, Buaya Siam dan Buaya Sinyulong adalah satwa yang dilindungi oleh undang undang berdasarkan Peraturan pemerintah Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 1999 tentang Jenis jenis Tumbuhan dan Satwa yang Dilindungi.

Oleh IUCN Redlist, Buaya siam dan buaya mindoro dikategorikan dalam buaya yang mulai langka dan dimasukkan dalam status konservasi Critically Endangered (Critis). Sedangkan Buaya senyulong dimasukkan dalam status konservasi Terancam Punah (Endangered). Dan spesies buaya lainnya seperti buaya muara dan buaya Irian didaftarkan dalam status konservasi berisiko rendah atau Least Concern.

Tips Merawat Iguana

Dengan sosoknya yang terkesan seperti hewan purba menjadikannya sangat digemari kalangan generasi muda.
Dewasa ini iguana tengah marak memasuki bursa hewan kesayangan. Hewan yang di habitat aslinya hidup di pepohonan sepanjang daerah aliran sungai ini bersifat diurnal atau aktif siang hari. Hidupnya di wilayah dengan ketinggian sampai 1.000 meter dpl, baik di daerah tropis maupun subtropis, dari wilayah utara Mexico sampai tengah Amerika Selatan.
Daging iguana berwarna putih dan empuk seperti ikan. Secara tradisional daging ini dipercaya mengandung bahan yang bersifat aphrodisiac,yaitu dapat merangsang dan memacu daya seksual.
A. Daya Tarik Iguana
Yang menjadi daya tarik:
  • - berkesan purba
  • - lincah, gesit, waspada, dan responsif
Iguana memiliki indera pendengaran, penglihatan, dan pembauan yang sangat tajam. Bila ada bahaya, iguana akan segera meloncat dari pepohonan (walaupun cukup tinggi) ke air sungai ilan berenang dengan cepat untuk menyelamatkan diri.
la terkenal sebagai perenang sangat lihai. Kaki depannya didekapkan sepanjang badan, sedangkan ekornya yang panjang dan kuat digerakkan kiri kanan seperti pendayung. Kakinya pendek, tetapi kokoh. Kukunya kuat dan tajam sebagai alat penggali dan pemanjat.
Di lehernya terdapat gelambir kulit yang lebar. Gelambir ini berfungsi sebagai alat pengatur suhu tubuh. Iguana juga memiliki jengger yang sangat nyata dan kuat berbentuk seperti duri dari garis tengah leher bagian belakang memanjang ke punggung. Tubuhnya diselimuti sisik kecil yang teratur rapi. Itulah sebabnya iguana tampak seperti hewan purba yang menjadikannya sangat disukai sebagai hewan kesayangan.
Kulit salah satu jenis reptil ini tidak dapat berubah warna seperti yang dilakukan bunglon dalam upayanya menyesuaikan diri dengan lingkungan. Hanya ada bagian kulit tertentu saja yang bila terkena sinar matahari langsung akan berubah warna menjadi lebih gelap.
Iguana muda berkulit biru kehijauan dan ekornya terdapat gelang-gelang warna gelap. Bila dewasa, kulitnya akan berubah seperti warna tanah dan timbul garis-garis vertikal pada tubuh sampai ekor.
B. Jenis yang Disukai
Iguana termasuk dalam kelas Reptilia, ordo Squamata. Dari banyaknya jenis iguana, hanya iguana hijau (Iguana iguana) yang paling banyak dikenal sebagai hewan kesayangan. Kelebihannya terletak pada penampilannya yang lincah, gesit, dan responsif. la pun jinak, tidak seperti jenis yang lain. Pemeliharaannya sangat mudah.
C. Kandang dan Perlengkapannya
Kandang yang baik:
  • - mudah dibersihkan
  • berlantai empuk
  • - membuat iguana leluasa bergerak
Kandang merupakan sarana hidup yang mirip tempat hidup di habitat asli yang berukuran mini. Oleh karena berukuran mini, pergerakannya pun sangat terbatas dan perilaku di habitat aslinya tidak dapat dilakukan dcngan baik. Untuk itu, peran pemelihara sangat besar untuk kesehatannya.
Rancangan kandang sebaiknya didasarkan pada kemudahan untuk melakukan sanitasi kandang. Kandang yang selalu dibersihkan akan membuat pemelihara enggan melakukan tugas sanitasi. Ini akan berakibat iguana dapat terserang penyakit. Ukuran kandang pun harus sesuai dengan ukuran tubuh iguana untuk keperluan pergerakannya. Selain itu, juga perlu disesuaikan dengan perlengkapan kandang. Di pasaran sekarang ini telah banyak dijual kandang yang indah. Namun, perlu diperhatikan faktor kemudahan membersihkannya.
Lantai kandang harus tampil bersih setiap hari. Untuk itu, lantai, harus mudah dibersihkan, halus, empuk, dan dapat menyerap air.
Bahan lantai seperti ini dapat berupa kertas koran, kertas berlilin seperti kertas pembungkus makanan, kertas tisu tebal, dan karpet tanpa bulu.
Sebenarnya lantai kandang juga dapat dibuat seperti lantai kandang ayam sistem litter karena tidak setiap hari diganti dan dibersihkan. Bahan lantai seperti ini dapat berupa hancuran tongkol jagung, kayu gergajian atau serutan kayu, kulit kacang tanah, atau pasir. Namun, lantai seperti ini sangat mungkin ikut termakan.
Iguana menyukai lingkungan yang hangat, berkisar 30—39° C. Untuk itu, kandang perlu dilengkapi dengan jendela yang dapat meneruskan sinar matahari. Sinar matahari diperlukan sebagai sumber sinar ultraviolet (UV) untuk membangun vitamin D. Bila sinar matahari tidak mungkin diperoleh, kandang dapat dilengkapi dengan lampu UV buatan. Lampu itu pun harus dilindungi dengan bahan penghantar panas agar tidak langsung mengenai tubuh iguana.
Lampu ini dinyalakan selama 12—14 jam sehari. Untuk mengetahui kesesuaian suhu dalam kandang, perlu dipasangkan termometer udara. Agar suhu udara dapat diatur sesuai kebutuhan juga perlu dipasangkan termostat (alat pengatur suhu udara).
Walau bagaimanapun keadaan lampu UV buatan, kualitasnya tidak akan menyamai sinar matahari. Untuk itu, kalau menggunakan lampu UV maka sebaiknya dinding kandang jangan dipasangi plastik, fiber, atau kaca, tetapi dari bahan kawat kasa yang kuat dan licin. Solderannya pun bukan dari bahan plumbum (Pb) karena dapat meracuni iguana kalau dijilati.
Di habitat aslinya, iguana suka berjemur di atas bebatuan seungai atau di pokok pohon. Untuk itu, kandang perlu dilengkapi karang, atau pokok pohon yang diletakkan di tempat yang bisa terkena sinar matahari atau lampu UV. Perlengkapan ini dapat asli atau buatan. Selain untuk tempat berjemur, bahan digunakan untuk memanjat.
Selain perlengkapan kandang tersebut, kandang dapat dilengkapi dengan cempat persernbunyian. Bahan yang cocok berupa pipa paralon atau lukas pL’inbungkus tisu. Ukurannya perlu disesuaikan dengan panjang iubuh iguana.
Air sungat dibutuhkan oleh iguana, baik untuk minum maupun mandi. Namun, air untuk minum berlainan dengan air untuk mandi atau berenang. Untuk mandi dan berenang, dalam kolam perlu diletakkan kolam yang diisi air hanya sekitar dua pertiga ukuran kolam. Air kolam dapat diganti kalau sudah terlihat keruh, berwarna kehijauan, berbau, atau tercemar kotoran dan sisa makanan.
Untuk minum sebaiknya air dialirkan di pipa karet atau plastik yang ujungnya dilengkapi keran tekan. Air dapat keluar kalau iguana menekan keran tekan dengan moncongnya. Cara minum seperti ini dapat diajarkan pada iguana. Selain dengan alat ini, botol yang digantung terbalik pun dapat digunakan.
D. Makanan
Makanan iguana
  • Porsi makan ikan, telur rebus, daging, brokoli, bayam, alfalfa, bit, jamur, wortel 20 g setiap kg berat badan
Sebagai hewan piaraan yang tidak sebebas di alam aslinya, iguana perlu makanan yang mengandung zat gizi yang lengkap, yaitu protein (hewani dan nabati), karbohidrat, lemak, vitamin, mineral, dan air.
Porsi terbesar makanan iguana dewasa berbentuk hijauan. Pemberian hijauan sebaiknya dalam bentuk potongan kecil. Dalam pemberiannya, potongan sayuran dicampur merata dengan irisan-irisan telur rebus, daging, atau ikan sehingga iguana tidak dapat memilih makanannya. Agar efisiensi, makanan ini dapat dibuat untuk keperluan seminggu, tetapi harus disimpan dalam panci tertutup dan diletakkan dalam lemari es agar tidak rusak.
Makanan diberikan 2—3 kali sehari untuk iguana muda dan 2—3 kali seminggu untuk iguana dewasa. Porsi makannya harus cukup agar tidak ada makan yang terbuang. Porsi makanan ini akan bertambah setiap waktu. Oleh karena itu, sebaiknya jumlah makanan yang diberikan harus didasarkan pada berat badannya. Sisa makan-an merupakan faktor utama yang membuat kandang menjadi kotor, lembap, dan berbau.
Iguana senang makan makanan sumber protein hewani dari mangsa hidup seperti jangkrik, cacing, atau anak tikus. Namun, tidak ada jaminan mangsa hidup itu sehat dan tidak. Untuk itu, perlu berhati-hati memberikan mangsa hidup.
Ke dalam makanan campuran juga dapat ditambahkan vitamin dan mineral, baik berupa bubuk, tetes, maupun sirop. Pemberian tambahan vitamin dan mineral ini harus diteruskan hingga iguana tua. Namun, pemberian pada iguana dewasa dapat langsung ke mulut dengan pinset atau pelontar pil. Untuk keperluan ini, vitamin dan mineral tersebut berupa kapsul atau tablet.
Sebagai selingan Anda dapat memberikan makanan anjing, kucing, atau kelinci berupa pelet. Selain itu, pada waktu tertentu iguana perlu diberi bahan makanan dari cumbuhan yang mengandung protein tinggi seperti dandelion (bunga dan daunnya), bunga mawar, atau kembang sepatu. Sebagai variasi, iguana juga dapat diajari makan buah-buahan seperti apel, pisang, pir, atau stroberi.
E. Pemeliharaan
Yang perlu diperhatikan:
  • - berikan yoghart atau feses iguana deuiasa pada anak iguana
  • - amati keadaan iguana setiap hari agar tetap sehat
1. Pemberian mikroflora
Dari hasil penelitian diperoleh bahwa angka kematian anak iguana peliharaan cukup tinggi. Hasil autopsi menyimpulkan bahwa ketidakcukupan mikroflora dalam alat pencernaan membuat anak iguana tidak mampu mencerna makanannya. Memang di habitat aslinya anak iguana mendapat mikroflora dari memakan feses induknya. Berbeda dengan iguana peliharaan, pemelihara mengira kotoran harus segera dibuang dan tidak layak dimakan. Bahkan begitu menetas, anak iguana langsung dipisahkan dari induknya. Agar hal itu dapat dihindari, anak iguana harus diberi mikroflora dari yoghurt atau feses iguana dewasa.
2. Problem kesehatan
Sebagai makhluk hidup, iguana tidak terlepas dari gangguan kesehatan. Berikut diberikan beberapa problem kesehatan yang sering terjadi pada iguana peliharaan.
a. Kelainan tulang
Iguana peliharaan sering mengalami defisiensi vitamin D, dan kalsium yang menyebabkan penyakit tulang keropos. Defisiensi kalsium terjadi kalau iguana hanya diberi makanan monotonus (misalnya kangkung saja). Sementara defisiensi vitamin D3 terjadi kalau kandangnya tidak memperoleh sinar matahari cukup.
Gejala tulang keropos antara lain lemah, gerakan tidak lincah, serta rahang (terutama bawah), kaki, dan ekor membengkak sehingga iguana sukar makan. Jika terus berlanjut, tulang akan tampak salah bentuk dan mudah patah atau pecah tulang.
Pengobatannya memang memakan waktu cukup lama dengan cara pembcrian vitamin dan mineral melalui makanan atau suntikan. Pengobatan dengan suntikan akan lebih cepat memperlihatkan hasil.
b. Kelumpuhan kaki dan ekor
Kelumpuhan kaki (terutama depan) dan ekor disebabkan oleh defistensi vitamin B dan kalsium. Pengobatan dapat dilakukan dengan pemberian vitamin B maupun mineral kalsium, baik melalui suntikan ataupun makanan.
c. Luka lecet pada hidung
Iguana sering menubrukkan hidungnya ke dinding kandang. Kalau hal ini dilakukan btrulang kali, hidung akan lecet atau terluka.
Luka lecet ini pun dapat terjadi karena iguana sering diusik (terutama anak-anak). Agar tidak terjadi luka leeet, lapisi bagian bawah sekeliling kandang (sekitar 15—20 em) dengan bahan plastik, fiber, atau kasa tebal. Di samping itu, anak-anak diperingatkan agar tidak mengusik iguana.
d. Melepuh
Kandang yang kotor dan becek oleh feses, urine, sisa makanan, dan sebagainya dapat membuat kaki, ekor, dan kulit bagian bawah kontak dengan kotoran lembap tersebut. Bila hal ini terus terjadi, kulit menjadi lembek, rapuh, melepuh, bahkan luka karena terkelupas. Luka yang dibiarkan akan menyebabkan pembusukan (gangrene), bahkan dapat terjadi abses.
Untuk mengatasi hal ini, iguana sakit dipindahkan ke kandang lain yang bersih, kering, berlantai halus, dan empuk. Kandang lama dibersihkan dan didesinfeksi, lalu dibiarkan kosong selama dua minggu. Bersihkan luka dengan antiseptik Betadin 1% atau larutan rivanol. Kalau terjadi abses, bersihkan nanahnya dan oleskan salep (penisilin, gentamisin, atau neomisin) atau taburkan bedak sulfanilamide. Suntikkan antibiotika sistemik (Ampisilin, dosis 20 mg/kg berat badan) sekali sehari selama 5—7 hari. Salep perlu ditambahkan konservan minyak (ointment)agar tahan lama melekat. Berikan juga suntikan vitamin A (2.000 lU/kg berat badan) dan vitamin e (20 mg/kg berat badan) 1—2 kali seminggu. Selanjutnya berikan yoghurt putih atau kuning seminggu setelah awal pemberian antibiotika. Dosis satu sendok teh selama 2—3 sehari.
e. Mulut membusuk
Iguana yang kelaparan biasanya akan memakan apa saja yang dijumpainya (termasuk benda-benda kasar, keras, tajam, atau beraeun). Akibatnya mulut mengalami luka yang akan membusuk kalau lingkungan pemeliharaannya tidak higiene.
Gejalanya antara lain mulut bengkak, meradang, keiuar nanah, keluar air liur berlebihan, dan sulit makan.
Pengobatannya dilakukan seperti penyakit pelepuhan. Karena iguana tidak mampu makan sendiri, perlu pemberian makanan eair seeara paksa dengan spuit atau selang plastik/karet.
f. Penyakit parasiter
Iguana rawan dengan serangan parasit, baik ektoparasit (tungau) maupun endoparasit (eaeing/protozoa). Adanya penyakit parasit umumnya disebabkan kesalahan manajemen lingkungan. Gejalanya ialah iguana tampak lemah karena terjadi malnutrisi.
Diagnosis penyakit harus dilakukan di laboratorium terhadap sampel feses dan darah, baik untuk mengetahui penyebabnya maupun obat yang eoeok. Untuk peneegahannya, perlu dilakukan evaluasi sistem manajemen seeara keseluruhan.
g. Telur sulit keluar
Telur yang sulit keluar melalui kloaka dapat disebabkan oleh pelekatan beberapa telur, telur membatu (mumifikasi telur), atau telur salah bentuk. Telur yang berlekatan dapat saja keluar, tetapi sudah peeah. Hal ini disebabkan betina menderita defisiensi mineral ataupun infeksi indung telur/uterus.
Diagnosis hanya dapat dilakukan melalui foto rontgen. Bila ada telur yang membatu, harus dilakukan operasi yang diikuti pemberian gizi seimbang.
h. Patah ekor dan jari
Keeelakaan dapat menyebabkan ekor mengalami patah, fraktur, atau meleset sendi. Jarijarinya pun dapat mengalami keseleo, patah, atau kukunya eopot. Keeelakaan ini dapat terjadi karena kesalahan pemelihara dalam perlakuan perawatan dan pengobatan ataupun kesalahan iguana sendiri yang ingin membebaskan diri dari kandang.
F. Membiakkan Iguana
Iguana jantan:
  • - jengger lebih panjang
  • tubuh lebih besar
  • wama kulit lebih terang
  • - kepala lebih besar
  • - terdapat jakun
Iguana betina:
  • - jengger lebih pendek
  • - tubuh lebih kecil
  • - warna kulit lebih terang
  • - kepala kecil
Iguana jantan maupun hetina mempunyai sederetan lubang sangat nyata yang herjajar di sebelah bawah kedua sisi pinggulnya. Deretan lubang ini sebenarnya merupakan kelenjar yang mengeluarkan semaeam bahan lilin lembek (wax). Kelenjar ini dipergunakan untuk menandakan wilayah sebagai pengenal dan tanda komunikasi antara iguana. Deretan lubang pada iguana jantan dewasa berkembang lebih menonjol ke luar dibanding betina. Perkembangan tonjolan ini dipergunakan untuk mempererat pelukan jantan pada betina saat kopulasi.
Di habitat aslinya, musim kawin terjadi di bulan Januari—Februari setiap tahunnya. Sementara masa bertelurnya berlangsung selama dua bulan. Telur yang keluar biasanya diletakkan iguana betina pada sarang yang dibuatnya di pasir atau tanah yang lembap di dekat pokok-pokok pepohonan. Dalam satu rnusim bertelur, seekor induk iguana dapat menghasilkan 25—45 butir telur.
Setelah dua bulan dalam lubang, telur akan menetas dan muneul bayi iguana yang panjangnya rata-rata 25—30 em. Setiap tahun iguana akan bertambah panjang sekitar 15—24 em. Iguana akan meneapai dewasa kelamin setelah berumur 3 tahun. (Sumber: doveindonesia.wordpress.com)

Cara Membuat Kandang Iguana



Cara Membuat Kandang Iguana. Saat kita membeli iguana biasanya ukurannya masih berukuran kecil. Tapi sejalan dengan waktu, iguana dapat tumbuh menjadi besar hingga ukuran kandang juga mesti di perbesar atau membuat baru lagi. Ukuran kandang yang baik mesti cukup besar agar bisa memberikan ruangan yang cukup bagi iguana supaya bisa bergerak dengan bebas.





Ada yang percaya bahwa pertumbuhan iguana dapat dibatasi dengan ukuran kandang. Tentu saja anggapan ini tidak benar. Iguana tumbuh dengan cepat pada kuartal pertama kemudian secara bertahap melambat. Jadi walaupun ketika membeli iguana ukurannya masih kecil, kita harus pastikan untuk menyediakan kandang yang berukuran besar sebab sesudah beberapa bulan ukurannya akan bertambah.



Kelembaban serta suhu kandang iguana mesti dipertimbangkan. Iguana adalah hewan berdarah dingin hingga mesti dipastikan kandang iguana bersuhu cukup hangat tapi tidak terlalu panas. Iguana umumnya hidup di iklim tropis, jadi suhu semestinya tidak menjadi masalah untuk iklim Indonesia. Jika suhu ruangan terlalu dingin, lampu bisa ditambahkan dalam kandang agar suhu lebih hangat.



Disamping suhu, kelembaban udara juga mesti dijaga. Kelembaban udara yang sesuai untuk iguana berkisar antara 65 sampai 70 persen. Bila kelembaban udara terlalu rendah, air bisa disemprotkan sesekali pada kandang. Kelembaban kelembaban ini juga bisa dikontrol dengan meletakkan mangkuk berisi air di dalam kandang.



Iguana juga membutuhkan cahaya matahari untuk membantu proses pencernaan. Sinar UV-B dan UV-A dibutuhkan untuk kelangsungan hidup mereka. UV-B membantu dalam proses produksi vitamin D3 yang merupakan komponen penting yang di butuhkan untuk proses pencernaan. Cara yang paling mudah dan murah untuk menyediakan sinar UV adalah dengan membiarkan sinar matahari masuk ke dalam kandang. Untuk menyiasati hal ini, kandang iguana bisa kita letakkan di dekat jendela.



Dalam membangun kandang yang baik bagi iguana, ada tips untuk membangun cara membuat kandang iguana yang baik dan sesuai dengan yang dibutuhkan oleh reptil iguana.



1. Kandang cukup luas dan besar, bisa dibuat menyerupai ruangan besar. Cabang buatan dan tanaman bisa ditambahkan agar kandang memiliki nuansa lingkungan sesuai habitatnya.

2. Sirkulasi udara adalah faktor penting yang mesti dipertimbangkan. Sebuah kandang nyaman bisa memenuhi kebutuhan iguana. Untuk mengatur agar biaya yang digunakan tetap rendah, kita bisa menggunakan kipas kecil. Sirkulasi ini juga bisa membantu penyebaran jamur yang mungkin terjadi, kipas bisa di pakai bila kelembaban melebihi dari yang dibutuhkan. Kelembaban dan suhu kandang bisa dibangkitkan dengan sirkulasi, matikan kipas dan semprotkan air bila kelembabab udara terlalu rendah.

3. Kita bisa melentakan sebuah bantal yang bisa digunakan iguana saat malam dan dingin. Sebuah lampu 75 watt bisa di gunakan untuk membuat suhu hangat

4. Saat iguana pertama kali di masukan dalam kandang baru, berilah waktu supaya iguana bisa adaptasi dengan kandang tersebut. Jangan terlalu sering memegang dan mengeluarkan iguana supaya tidak stres, awasi dari kejauhan saja selama beberapa hari agar iguana terbiasa dengan kandang barunya.

5. Pastikan sambungan dan peralatan listrik aman dan tidak bisa di akses oleh iguana, iguana bisa memanjat dan dapat memegang apa saja termasuk peralatan dan sambungan listrik yang dipakai.

6. Jaga kandang jauh dari hama pengganggu dan pemangsa.



Di karena pada dasarnya iguana merupakan hewan liar, penting untuk membuat kandang iguana semirip mungkin habitat aslinya. Di habitanya, iguana suka memanjat pohon. Jadi jangan lupa meletakkan ranting atau kayu agar iguana bisa t bertengger.



3 Jenis Makanan untuk Iguana

Iguana 31 150x150 Tips Memelihara Iguana: 3 Jenis Makanan untuk Iguana Karena tampang yang tampak sangar, iguana sering dianggap sebagai hewan karnivora.
Kenyataannya, iguana bukanlah karnivora. Jadi jika semisal jari digigt, dia sebenarnya tidak sedang berusaha memakan jari Anda.
Jari digigit bisa jadi karena si iguana sedang gelisah, ingin bercanda, atau merasa terancam.
Lantas apa makanan iguana?
Iguana adalah hewan herbivora. Iguana makan buah-buahan, sayuran, dan produk tumbuhan tertentu. Hal ini perlu diketahui oleh seorang calon pemilik iguana.
Karena iguana memakan tumbuhan, tidak berarti semua jenis tumbuhan dan buah-buahan cocok buat mereka.
Ada jenis makanan yang perlu diberikan secara teratur, ada yang hanya diberikan sesekali saja, dan ada pula yang jangan pernah diberikan ke iguana.
Jadi, agar iguana dapat hidup sehat dan sejahtera, mengetahui jenis makanan yang cocok amatlah diperlukan.
Merangkum penjelasan sebelumnya, ada tiga jenis atau kategori makanan iguana:
* Makanan yang harus diberikan secara teratur
* Makanan yang hanya perlu diberikan sesekali saja
* Makanan yang tidak boleh diberikan
Mari kita mulai dengan makanan yang tidak boleh diberikan ke iguana.
Karena iguana tergolong herbivora, jangan memberikan daging atau produk hewani lainnya. Iguana mungkin tidak akan menolak saat diberi daging, tapi jangan memulai kebiasaan ini.
Protein hewani justru tidak baik untuk iguana. Iguana tetap memerlukan protein, tapi pastikan untuk memenuhinya dari protein nabati.

10 Jenis Penyakit Umum pada Iguana

Iguana 21 150x150 Tips Memelihara Iguana: 10 Jenis Penyakit Umum pada IguanaSama seperti makhluk lainnya, iguana tidak kebal penyakit. Iguana bisa menjadi sakit sehingga memerlukan perawatan agar pulih seperti sedia kala.
Beberapa penyakit bisa mengancam kehidupan iguana sehingga memerlukan perawatan lanjut oleh dokter hewan.
Berikut adalah beberapa penyakit iguana yang paling sering menyerang:
1. Fibrous Osteodystrophy atau Penyakit Tulang Metabolik
Penyakit ini muncul akibat gizi dan makanan yang buruk. Jika baru pertama kali memelihara iguana, ada baiknya mendapatkan nasihat dari penjual mengenai makanan yang cocok untuk iguana.
Beberapa jenis makanan seperti selada tidak mengandung banyak gizi. Jadi penting untuk mengkombinasikan jenis makanan iguana.
Kondisi ini akan diperparah saat iguana tidak mendapatkan cukup asupan vitamin D3 sehingga tubuh tidak dapat memproduksi cukup kalsium.
Gejala penyakit ini meliputi muka dan rahang bawah yang nampak lembek, bengkak di rahang bagian bawah, lesu, kaki bengkak, dan sulit makan.
2. Kelumpuhan Kaki Belakang
Penyakit ini disebabkan oleh kekurangan vitamin B1. Untuk menyembuhkan kondisi ini, dokter hewan biasanya akan menyuntikkan vitamin dan mineral serta merekomendasikan perubahan pakan iguana.
3. Hidung Lecet
Ketika tidak merasa nyaman di lingkungan barunya, iguana akan mencoba melarikan diri dari kandang sehingga menyebabkan goresan dan lecet pada hidung dan wajah.
Saat mencari jalan untuk melarikan diri mereka biasanya menggosokkan hidung pada kandang sehingga menyebabkan lecet. Jika lecet ini tidak ditangani, infeksi bakteri atau borok bisa saja terjadi.
sumber : http://www.amazine.co/2185/tips-memelihara-iguana-10-jenis-penyakit-umum-pada-iguana/

Cara Merawat Ular Python

Nama Latin: Python molurus bivittatus

Negara 
Asal: Asia Tenggara, IndonesiaSize: Burmese pythons bisa mencapai panjang 17 to 18 feet dan berat mencapai 200 pounds or lebih. Sangat mungkin ular ini dapat mencapai panjang 10 feet pada 18 bulan. Rekor yang tercatat adalah 26 feet

Umur : Burmese pythons dapat mencapai 25 tahun atau lebih dalam pemeliharaan yang baik.

Perhatian : Dikarenakan ukuran yang besar serta panjangnya ular ini sangat tidak dianjurkan untuk pemula. Memelihara ular ini diperluakan suatu keseriusan dan tidak jarang pula investasi yang sangat mahal. Disebabkan karena tidak adanya penanganan yang memadai ular ini akan menyebabkan kematian. Salah satu contoh adalah mengalungkan ular ini di leher. Penampilan

Umum: Dengan tersedianya jenis yang banyak di penangkaran, sekarang bisa diperoleh bermacam warna dan jenis. Yang paling populer adalah Albino, Hijau, labyrinth, Granit, Tiger.

Kandang :Seekor Burmese Python ukuran kecil membutuhkan tempat paling minim seukuran aquarium 20 gallon atau lebih, sampai dia mendapat tempat yang lebih besar. Di karenakan ukuran yang besar kadang harus di buat dengan ukuran minimal : 6 – 8 feet panjang X 2 – 4 feet lebar X 3 – 4 feet tinggi. Sangat tidak disarankan menggunakan kayu yang belum finishing dikarenakan lebih mudah cepat rusak. Temperatur: Siang Hari 85° to 90° F, dengan tempat berjemurnya antara 90° to 93° F. Malam hari temperatures berkisar at 75° to 80° F.

Pemanas dan Penerangan : Lampu UV tidak diperlukan, untuk ular jenis ini. Pencahayaan sekitar 10 sampai dengan 12 jam bisa menggunakan lampu pijar biasa. Menggunakan lampu pijar sebagai pemanas atau keramik penghantar panas dapat juga di pakai sebagai penghangat. Pemanas dari batu santa tidak di anjurkan karena bisa overheat dan membuat ular terluka.
Alas : Indoor / Outdoor carpet model Atroturf TM dianjurkan dalam pemakaian karena mudah dibersihkan dan anti bakteri, selain itu yang paling mudah adalah koran, sangat tidak disarankan mengunakan Alas yang mgandung Cedar karena Cedar mengandung racun yang bisa membunuh ular.

Lingkungan Tempat tinggal : Dikarenakan ular ini berasal dari Hutan Tropical basah, jadi memerlukan kelembaban yang sesuai. Terlalu lembab dapat menimbulkan tumbuhnya bakteri maupun jamur demikian halnya apabila terlalu rendah kelembabannya menyebabkan terjadinya masalah dalam pergantian kulit. Di dalam kandang juga bisa disediakan air untuk menjaga kelembaban, tetapi harus di ingat bila malam harus di keluarkan dari kandang karena akan meningkatkan kelembaban..

Diet: Setelah menetas Burmese pythons bisa makan tikus dewasa ukuran kecil sebagai makanan pertama mereka, Burmese pythons dewasa memerlukan kelinci sebagai makanannya, dalam pemebrian makan tidak boleh terlalu sering karena berakibat pada obesitas. Apabila memberikan makan dengan makanan beku harus dicairkan terlebih dahulu guna mengurangi resiko terlukanya ular karena makan makan yang masih beku. Sangat tidak dianjurakan memberi makan dari bianatang liar karena mungkin masih mengandung racun yang berbahaya bagi kesehatan ular.

Perawatan dan Pembersihan : Kandang harus dibersihkan setiap hari, apa bila menggunakan indoor/outdoor carpet sangat disarankan mempunyai dua untuk dipakai bergantian, pastikan telah mencuci dan mengeringkan carpet sebelum di pakai lagi. Air yang di dalam kandang harus juga diganti setip hari guna menghindari bakteri yang mungkin masuk bersam kotoran ular. Sanagt disarankan mencuci tangan sebelum dan sesudah memegang ular.

Perawatan Ular Peliharaan

Topik ini sudah pernah diulas di artikel sebelumnya, namun kali ini saya akan mencoba untuk menulis lebih detil lagi. Banyaknya email yang masuk dan bertanya kepada saya membuat saya berpikir untuk mengulasnya melalui blog ini.

Seberapa sering ular itu harus dipegang?
Pertanyaan tersebut 
kerap kali ditanyakan oleh pe
hobi yang baru mulai memelihara ular. Untuk menjawabnya memang saya agak sulit karena memang tidak ada patokan yang pasti untuk hal ini. Yang jelas, jangan kita terlalu sering menyentuh ular peliharaan kita agar tidak menjadi stres namun juga jangan sampai jarang dipegang atau disentuh sehingga ular peliharaan kita menjadi galak karena tidak terbiasa dipegang. Tentunya hal ini tergantung kepada tiap-tiap ular itu sendiri dan juga tergantung dari jenis ular yg dipelihara. Hal yang perlu diperhatikan adalah jangan menyentuh ular yang baru saja makan, beri waktu beberapa hari setelah ular tersebut makan kenyang sebelum disentuh. Ular yang disentuh atau dipegang setelah makan bisa saja menjadi stres sehingga makanannya dimuntahkan kembali atau ada beberapa ular yang menjadi agresif setelah makan kenyang. Sebaiknya setelah dua atau tiga hari barulah kita pegang ular tersebut, sekali lagi saya tegaskan bahwa hal ini adalah tergantung dari kondisi ularnya. Apabila setelah tiga hari masih ada benjolan di perut ularnya maka belum saatnya untuk dipegang.

Jadwal pemberian makanan

Untuk jadwal pemberian makan pun tergantung dari jenis dan ukuran ular. Pada prinsipnya berikan umpan yang sehat dan bebas penyakit. Usahakan tiap kali makan porsinya cukup dan jadwal pemberian pakan tetap, misal: seminggu sekali atau dua minggu sekali. Untuk jumlah makanannya bisa bervariasi, namun yang perlu diperhatikan adalah jangan sampai kurang atau terlalu kenyang. Untuk patokannya saya bisa berikan tips disini, yaitu: misalkan ular peliharaan anda mampu memakan 5 ekor bebek dalam satu kali makan, maka berikan cukup 4 ekor saja tiap kali makan. Intinya selalu kurangi dari porsi makan maksimalnya.
Untuk ukuran mangsanya usahakan ukurannya lebih besar sedikit dari kepala ularnya, makin besar makin baik, tentunya tergantung dari kemampuan ularnya. Jangan pula terlalu besar sehingga ularnya mengalami kesulitan atau bahkan tidak mau makan.
Untuk ular ukuran kecil yang ingin diberi makan ular tikus putih (rat), sebaiknya saat pemberian makan tetap terus dipantau, apabila tidak segera dimangsa lebih baik diambil dan diberikan lain waktu sampai ularnya benar-benar siap makan. Kenapa saya jelaskan? Karena tidak jarang justru ular tersebut yang digigit oleh si tikus putih (rat) tersebut. Saya sendiri memiliki pengalaman seperti itu, ular kobra kesayangan saya mati setelah kepalanya digigit oleh tikus rat yang saya berikan.
Bagi yang belum mengerti, bisa saya jelaskan bahwa tikus putih ada dua jenis, yaitu jenis kecil dan besar. Biasanya yang kecil disebut mice, jinak dan ukurannya tidak bisa besar dan yang jenis kedua ukurannya besar disebut rat, jenis ini ukurannya bisa sebesar tikus sawah dan galak.

sumber : http://tiwikodri.blogspot.com/2010/05/perawatan-ular-peliharaan.html

Ular Sanca Kembang


Sanca kembang adalah sejenis ulartak berbisa yang berukuran besar. Ukuran terbesarnya dikatakan dapat melebihi 10 meter. Lebih panjang dari anakonda (Eunectes), ular terbesar dan terpanjang di Amerika Selatan. Nama-nama lainnya adalah ular sanca; ular sawah; sawah-n-etem (Simeulue); ular petola (A
mbon); dan dalam bahasa Inggrisreticulated python atau kerap disingkat retics.

IDENTIFIKASI

Sanca kembang ini mudah dikenali karena umumnya bertubuh besar. Keluarga sanca (Pythonidae) relatif mudah dibedakan dari ular-ular lain dengan melihat sisik-sisik dorsalnya yang lebih dari 45 deret, dan sisik-sisik ventralnya yang lebih sempit dari lebar sisi bawah tubuhnya. Di Indonesia barat, ada lima spesiesnya: tiga spesies bertubuh gendut pendek yakni kelompok ular peraca (Python curtus group: P. curtusP. brongersmai dan P. breitensteini) di SumatraKalimantan dan Semenanjung Malaya.
Dua spesies yang lain bertubuh relatif panjang, pejal berotot: P. molurus (sanca bodo) dan P. reticulatus. Kedua-duanya menyebar dari Asia hingga Sunda Besar, termasuk Jawa.
P. molurus memiliki pola kembangan yang berbeda dari reticulatus, terutama dengan adanya pola V besar berwarna gelap di atas kepalanya. Sanca kembang memiliki pola lingkaran-lingkaran besar berbentuk jala (reticula, jala), tersusun dari warna-warna hitam, kecoklatan, kuning dan putih di sepanjang sisi dorsal tubuhnya. Satu garis hitam tipis berjalan di atas kepala dari moncong hingga tengkuk, menyerupai garis tengah yang membagi dua kanan kiri kepala secara simetris. Dan masing-masing satu garis hitam lain yang lebih tebal berada di tiap sisi kepala, melewati mata ke belakang.
Sisik-sisik dorsal (punggung) tersusun dalam 70-80 deret; sisik-sisik ventral (perut) sebanyak 297-332 buah, dari bawah leher hingga ke anus; sisik subkaudal (sisi bawah ekor) 75-102 pasang. Perisai rostral (sisik di ujung moncong) dan empat perisai supralabial (sisik-sisik di bibir atas) terdepan memiliki lekuk lubang penghidu bahang (heat sensor pits) yang dalam (Tweedie 1983).

BIOLOGI DAN PENYEBARAN

Sanca kembang terhitung ular yang terbesar dan terpanjang di dunia. The Guinness Book of World Records tahun 1991 mencatat sanca kembang sepanjang 32 kaki 9.5 inci (sekitar 10 meter) sebagai ular yang terpanjang (Murphy and Henderson 1997). Namun yang umum dijumpai adalah ular-ular yang berukuran 5-8 meter. Sedangkan berat maksimal yang tercatat adalah 158 kg (347.6 lbs). Ular sanca termasuk ular yang berumur panjang, hingga lebih dari 25 tahun.
Ular-ular betina memiliki tubuh yang lebih besar. Jika yang jantan telah mulai kawin pada panjang tubuh sekitar 7-9 kaki, yang betina baru pada panjang sekitar 11 kaki. Dewasa kelamin tercapai pada umur antara 2-4 tahun.
Musim kawin berlangsung antara September hingga Maret di Asia. Berkurangnya panjang siang hari dan menurunnya suhu udara merupakan faktor pendorong yang merangsang musim kawin. Namun demikian, musim ini dapat bervariasi dari satu tempat ke tempat lain. Shine et al
. 1999 mendapatkan bahwa sanca kembang di sekitar PalembangSumatera Selatan, bertelur antara September-Oktober; sementara di sekitar MedanSumatera Utara antara bulan April-Mei.
Jantan maupun betina akan berpuasa di musim kawin, sehingga ukuran tubuh menjadi hal yang penting di sini. Betina bahkan akan melanjutkan puasa hingga bertelur, dan sangat mungkin juga hingga telur menetas (McCurley 1999).
Sanca kembang bertelur antara 10 hingga sekitar 100 butir. Telur-telur ini ‘dierami’ pada suhu 88-90 °F (31-32 °C) selama 80-90 hari, bahkan bisa lebih dari 100 hari. Ular betina akan melingkari telur-telur ini sambil berkontraksi. Gerakan otot ini menimbulkan panas yang akan meningkatkan suhu telur beberapa derajat di atas suhu lingkungan. Betina akan menjaga telur-telur ini dari pemangsa hingga menetas. Namun hanya sampai itu saja; begitu menetas, bayi-bayi ular itu ditinggalkan dan nasibnya diserahkan ke alam.
Sanca kembang menyebar di hutan-hutan Asia Tenggara. Mulai dari Kep. Nikobar
Burma hingga ke Indochina; ke selatan melewati Semenanjung Malaya hingga ke Sumatra, Kalimantan, Jawa, Nusa Tenggara (hingga Timor), Sulawesi; dan ke utara hingga Filipina(Murphy and Henderson 1997).
Sanca kembang memiliki tiga subspesies. Selain P.r. reticulatus yang hidup menyebar luas, dua lagi adalah P.r. jampeanus yang menyebar terbatas di Pulau Tanah Jampea dan P.r. saputrai yang menyebar terbatas di Kepulauan Selayar. Kedua-duanya di lepas pantai selatan Sulawesi Selatan.

EKOLOGI

Sanca kembang hidup di hutan-hutan tropis yang lembab (Mattison, 1999). Ular ini be
rgantung pada ketersediaan air, sehingga kerap ditemui tidak jauh dari badan air seperti sungai, kolam dan rawa.
Makanan utamanya adalah mamalia kecil, burung dan reptilia lain seperti biawak. Ular yang kecil memangsa kodokkadal dan ikan. Ular-ular berukuran besar dilaporkan memangsaanjingmonyetbabi hutanrusa, bahkan manusia yang ‘tersesat’ ke tempatnya menunggu mangsa (Mattison 1999, Murphy and Henderson 1997, Shine et al. 1999). Ular ini lebih senang menunggu daripada aktif berburu, barangkali karena ukuran tubuhnya yang besar menghabiskan banyak energi.
Mangsa dilumpuhkan dengan melilitnya kuat-kuat (constricting) hingga mati kehabisan nafas. Beberapa tulang di lingkar dada dan panggul mungkin patah karenanya. Kemudian setelah mati mangsa ditelan bulat-bulat mulai dari kepalanya.
Setelah makan, terutama setelah menelan mangsa yang besar, ular ini akan berpuasa beberapa hari hingga beberapa bulan hingga ia lapar kembali. Seekor sanca yang dipelihara di Regent’s Park pada tahun 1926 menolak untuk makan selama 23 bulan, namun setelah itu ia normal kembali (Murphy and Henderson 1997).

SANCA DAN MANUSIA


Sanca --terutama yang kecil-- kerap dipelihara orang karena relatif jinak dan ind
ah kulitnya. Pertunjukan rakyat, seperti topeng monyet, seringkali membawa seekor sanca kembang yang telah jinak untuk dipamerkan. Sirkus lokal juga terkadang membawa sanca berukuran 
besar untuk dipamerkan atau disewakan untuk diambil fotonya.
Sanca banyak diburu orang untuk diambil kulitnya yang indah dan bermutu baik. Lebih dari 500.000 potong kulit sanca kembang diperdagangkan setiap tahunnya. Sebagian besar kulit-kulit ini diekspor dari Indonesia, dengan sumber utama Sumatra dan Kalimantan. Semua adalah hasil tangkapan di alam liar.
Jelas perburuan sanca ini sangat mengkhawatirkan karena mengurangi populasinya di alam. Catatan dari penangkapan ular komersial di Sumatra mendapatkan bahwa sanca kembang yang ditangkap ukurannya bervariasi antara 1 m hingga 6 m, dengan rata-rata ukuran untuk jantan 2.5 m dan betina antara 3.1 m (Medan) – 3.6 m (Palembang). Kira-kira sepertiga dari betina tertangkap dalam keadaan reproduktif (Shine et al. 1999). Hingga saat ini, ular ini belum dilindungi undang-undang. CITES (konvensi perdagangan hidupan liar yang terancam) memasukkannya ke dalam Apendiks II.