Selamat Datang

Selamat Pagi Teman, Semoga Kita Selalu Di Berikan Kesehatan Semangat Kesuksesan dan Keberuntungan - Rikky Suryadi.

Kandang, Cage, Gex, Terrarium.

Menjual Beraneka Kandang, Cage, Gex, Terrarium, dan lain-lain. Bila Ada Pertanyaan Langsung saja sms ke 0852 6668 2211 atau invite PIN BB 27fcb90c - Rikky Suryadi.

Accessories Hamster Mini dan Lain-Lain

Menjual Beraneka Accessories Hamster, mulai dari Jogging Biasa, Jogging Ball, Vitamin, Kuaci, dll. Bila Ada Pertanyaan Langsung saja sms ke 0852 6668 2211 atau invite PIN BB 27fcb90c - Rikky Suryadi

Campbell, Roborosky, Winter White

Menjual Beraneka Jenis Hamster Mini. Menerima order Luar Kota(partai) . Bila Ada Pertanyaan Langsung saja sms ke 0852 6668 2211 atau invite PIN BB 27fcb90c - Rikky Suryadi

Hamster Disini Hanyalah Hamster Yang Terbaik dan Pastinya Jinak.

Bila Ada Pertanyaan Langsung saja sms ke 0852 6668 2211 atau invite PIN BB 27fcb90c - Rikky Suryadi

Tampilkan postingan dengan label About Film. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label About Film. Tampilkan semua postingan

Senin, 21 April 2014

Riddick


-----------


Kisah petualangan ketiga dari serial The Chronicles of Riddick dilanjutkan dalam film yang berjudul Riddick ini. Seri pertamanya berjudul Pitch Black dirilis pada tahun 2000 dan seri keduanya berjudul The Chronicles of Riddick pada tahun 2004. Masih dibintangi oleh Vin Diesel sebagai Riddick dan diarahkan oleh sutradara yang sama yaitu David Twohy.

Dikisahkan bahwa Riddick adalah seorang raja yang dikhianati oleh bawahannya. Kepergiannya ke sebuah planet bernama Furya ternyata dimanfaatkan oleh para pengkhianat untuk membunuhnya. Mereka membawanya ke planet lain dengan tujuan untuk membunuhnya. Merasa berhasil maka mereka meninggalkannya sendirian dalam planet yang tak dihuni oleh manusia ini.

Ternyata Riddick tidak mati walaupun luka-lukanya cukup parah. Dia mempunyai sahabat seekor anjing yang tentu saja di planet ini digambarkan dalam bentuk perpaduan antara anjing dan monster. Dia bertahan hidup dengan segala hambatan yang ada. Akhirnya Riddick menemukan suatu tempat untuk mengirim sinyal darurat untuk bantuan. Namun yang datang justru para pemburu hadiah untuk menangkap buronan karena Riddick dianggap sebagai buronan.

Pesawat pertama datang dan dipimpin oleh Santana (Jordi Molla) yang merupakan pemburu hadiah. Menyusul pesawat kedua datang dengan dikepalai oleh John (Matt Nable) yang ingin menanyakan keberadaan anaknya. Entahlah dalam film ini tidak ada sama sekali diceritakan tentang anak John sehingga gregetnya terasa hambar. Penonton tidak bisa merasakan emosi tersebut karena kisahnya sendiri tidak ditampilkan.

Satu per satu anak buah Santana dibunuh oleh Riddick. Sayangnya kemunculan Riddick bak hantu yang tidak bisa dilihat, tiba-tiba berada disana dan tiba-tiba hadir disini tanpa diketahui oleh musuh. Tentu saja hal ini menggampangkan alur ceritanya namun secara visual merupakan suatu kekurangan karena tidak ada prosesnya.

Riddick mengincar pesawat yang ada namun baterainya disimpan dalam lemari locker. Dia berhasil mencuri baterai itu dan menyembunyikannya di tempat lain. Santana dan John kelabakan karena tanpa alat itu maka mereka tidak bisa menerbangkan pesawatnya. Riddick berhasil ditangkap dan Santana ingin membunuhnya tetapi John ingin penjelasan mengenai anaknya yang ikut terbang bersama Riddick. John menganggap bahwa Riddick telah membunuhnya namun dibantah dan dijelaskan bahwa anak John ketagihan narkoba dan bunuh diri.

Akhirnya terjadi deal di antara mereka bahwa baterai dikembalikan satu sedangkan satunya lagi dipakai oleh Riddick. Untuk mencapai tempat penyimpanan baterai yang cukup jauh dan harus melewati monster beracun mereka menggunakan sepeda motor terbang. Ketika kembali mereka harus berjuang melawan monster di darat. Sayangnya Riddick harus berjuang sendirian karena ditinggal oleh John. Untungnya disaat-saat kritis, John kembali datang dengan membawa pesawatnya.

Cerita berakhir dengan happy ending dimana John pergi dengan pesawatnya dan Riddick mendapat pesawat sesuai janji sebelumnya untuk kembali ke planet asalnya. Jadi siap-siap dibikin film lanjutannya.

Vin Diesel bermain biasa saja dan tidak terlalu istimewa karena faktor untuk mengekplorasi diri tidak banyak. Perkelahian dan pertarungannya juga biasa. Yang menarik adalah peran Jordi Molla yang mampu mengekspresikan dirinya dengan baik. Karakter penggoda wanita, sadis dan juga pengecut dapat diekspresikan dengan mumpuni. Demikian juga peran Matt Nable yang menunjukkan wibawa seorang pemimpin dan tegas dapat diperankan dengan baik.

Kekurangan dalam film ini adalah miskin cerita dan membuat bingung penonton akan sosok Riddick, apakah dia seorang pahlawan atau seorang pembunuh berdarah dingin. Sutradara seharusnya mengolahnya dengan bijak tanpa mengurangi karakter itu sendiri.

Ada ketidak konsistenan cerita, bagaimana Riddick dianggap sebagai buronan padahal seharusnya sudah mati. Anggap saja dia belum mati, tetapi dengan ganasnya alam dan monster yang ada maka kecil sekali dia bisa hidup lama. Dengan ditinggal begitu saja dia tidak akan bisa kembali ke planet asalnya jadi tidak perlu adanya pemburu hadiah.

Ketidak konsistenan lain adalah mengapa bisa ada tempat untuk mengirim sinyal darurat jika tidak ada yang menghuni planet tersebut. Bagaimana dia bisa menjadi buronan dalam waktu singkat bila sebelumnya adalah seorang raja. Begitu gampangnya untuk mencapai planet asing tersebut seolah-olah sudah sering ke tempat tersebut.

Sebagai sebuah film hiburan bolehlah untuk ditonton namun jangan mengharap lebih karena masih banyak film petualangan sejenis yang labih bagus dari sisi cerita dan petualngannya itu sendiri.


Jumat, 10 Januari 2014

resensi Film Soekarno


Setelah menggarap Sang Pencerah (2011) serta membantu proses produksi film Habibie & Ainun (2012), Hanung Bramantyo kembali hadir dengan sebuah film biopik yang bercerita tentang kehidupan presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno. Berbeda dengan sosok Ahmad Dahlan – yang kisahnya dihadirkan dalam Sang Pencerah – atau Habibie yang cenderung memiliki kisah kehidupan yang lebih sederhana, perjalanan hidup Soekarno – baik dari sisi pribadi maupun dari kiprahnya di dunia politik – diwarnai begitu banyak intrik yang jelas membuat kisahnya cukup menarik untuk diangkat sebagai sebuah film layar lebar. Sayangnya, banyaknya intrik dalam kehidupan Soekarno itu pula yang kemudian berhasil menjebak Soekarno. Naskah cerita yang ditulis oleh Hanung bersama dengan Ben Sihombing (Cinta di Saku Celana, 2012) seperti terlalu berusaha untuk merangkum kehidupan Soekarno dalam tempo sesingkat-singkatnya – excuse the pun – sehingga membuat Soekarno seringkali kehilangan fokus penceritaan dan gagal untuk bercerita serta menyentuh subyek penceritaannya dengan lebih mendalam.
Penceritaan Soekarno dimulai ketika Soekarno (Ario Bayu) bersama dengan istrinya, Inggrit Ganarsih (Maudy Koesnaedi), dibuang oleh pihak Belanda ke Ende, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur dan ke Provinsi Bengkulu akibat pledoinya tentang kemerdekaan Indonesia yang dikenal dengan sebutan Indonesia Menggugat dianggap mengancam keberadaan Belanda di Indonesia. Di Bengkulu, Soekarno istirahat sejenak dari keriuhan dunia politik dan menghabiskan waktunya dengan mengajar para pemuda di provinsi tersebut. Meskipun telah memiliki istri, Soekarno tidak dapat menghindarkan hatinya dari rasa suka terhadap salah satu muridnya, Fatmawati (Tika Bravani). Hal ini jelas kemudian menghasilkan kemelut dalam rumah tangga Soekarno dan istrinya. Di tengah kemelut tersebut, Jepang kemudian berhasil menggeser posisi Belanda dan menduduki tanah Indonesia. Oleh Jepang, Soekarno kemudian dibebaskan dari masa pembuangannya. Ia lantas memilih untuk kembali ke dunia politik dan secara perlahan menyusun rencana untuk mengejar kemerdekaan dari negara yang begitu dicintainya.
Pada awalnya, Soekarno bersikap sangat permisif terhadap kedatangan pihak Jepang di Indonesia – sebuah sikap yang ditentang oleh dua lawan politiknya, Mohammad Hatta (Lukman Sardi) dan Sutan Syahrir (Tanta Ginting). Hatta dan Syahrir bahkan mengingatkan Soekarno bahwa pendudukan Jepang tidak akan kalah bengisnya dengan penjajahan Belanda. Namun, Soekarno sendiri beragumen bahwa Indonesia harus mampu memanfaatkan keberadaan Jepang untuk merebut kemerdekaan mereka sendiri – sebuah argumen yang kemudian berhasil memenangkan hati Hatta. Meskipun banyak dicemooh oleh kelompok pemuda progresif karena dinilai terlalu lemah terhadap Jepang, keyakinan Soekarno dan Hatta tidaklah goyah. Bersama Hatta, Soekarno berupaya mewujudkan cita-citanya mewujudkan kemeredekaan Indonesia.
Seandainya Hanung Bramantyo dan Ben Sihombing mau memilih beberapa konflik dalam kehidupan Soekarno dan mengembangkannya lebih dalam lagi sebagai sebuah presentasi cerita, mungkin alur penceritaan Soekarno akan dapat berjalan lebih efektif. Kehadiran banyaknya konflik dalam penceritaan Soekarno jelas membuat film ini tidak mampu memberikan penggalian yang lebih kuat pada masing-masing konflik. Hasilnya, banyak diantara konflik tersebut yang terkesan tumpang tindih, tersaji dengan kurang matang dan akhirnya membuat Soekarno gagal dalam menjalin hubungan emosional dengan penontonnya. Penonton seperti hanya datang untuk menyaksikan deretan reka ulang berbagai peristiwa yang terjadi dalam kehidupan sang karakter utama tanpa pernah benar-benar dilibatkan untuk dapat merasakan bagaimana perjalanan emosi yang dirasakan sang karakter utama ketika melewati deretan peristiwa tersebut.
Hadirnya banyak konflik dalam jalan penceritaan Soekarno yang dipaparkan dalam durasi 150 menit ini jelas juga menumbuhkan banyaknya kehadiran karakter-karakter dalam jumlah yang cukup besar. Sayangnya, sama dengan kondisi penceritaan yang gagal untuk tersaji secara matang dengan sempurna, karakter-karakter yang muncul dalam alur penceritaan Soekarno juga seringkali hadir tanpa porsi maupun peran penceritaan yang berarti, termasuk beberapa karakter dengan bagian penceritaan yang sebenarnya cukup potensial untuk dikembangkan dengan lebih baik seperti karakter Muhammad Hatta maupun dua karakter istri Soekarno, Inggrit Ganarsih dan Fatmawati. Jika saja naskah ceritaSoekarno dapat tertata dengan lebih sederhana dan efektif, mungkin banyak pemeran film ini yang akan dapat memberikan penampilan yang lebih kuat – dan, tentunya, durasi film juga akan hadir jauh lebih singkat.
Hanung Bramantyo juga sepertinya mengalami kesulitan dalam membagi porsi kisah kehidupan pribadi karakter Soekarno dengan kisah perjuangannya di dunia politik. Seringkali, porsi penceritaan kehidupan pribadi dari karakter Soekarno hadir dalam pengisahan yang terbatas sehingga justru mengganggu keseimbangan alur kisah mengenai perjuangan politik dari karakter Soekarno. Sejujurnya, tidak seperti Habibie & Ainun yang mampu memanfaatkan kisah asmara sang karakter utama untuk mengembangkan potensi drama romansa dari jalan cerita secara keseluruhan, kisah romansa dari karakter Soekarno dalam film ini sama sekali tidak pernah memberikan daya tarik yang kuat. Dipaparkan dengan terlalu sederhana dan sama sekali tidak begitu berarti sehingga dapat dihilangkan begitu saja.
Meskipun dengan kelemahan-kelemahan tersebut, Hanung Bramantyo masih mampu menghadirkan Soekarno dengan kualitas departemen akting dan tata produksi yang jempolan. Meskipun masih terlihat kurang meyakinkan sebagai seorang negarawan, Ario Bayu cukup mampu menghidupkan karakter Soekarno yang ikonik tersebut dengan baik. Bukan sebuah penampilan yang sangat istimewa dan mengesankan namun jelas bukanlah suatu hal yang mengecewakan. Departemen akting Soekarno juga didukung dengan penampilan-penampilan apik dari Maudy Koesnaedi, Lukman Sardi, Tika Bravani, Emir Mahira, Mathias Muchus, Tanta Ginting dan banyak nama pemeran lainnya. Tata produksi Soekarno hadir dengan kualitas yang begitu berkelas. Berkat sokongan departemen kamera dan artistik yang solid, Hanung Bramantyo dapat menghadirkan atmosfer masa-masa perjuangan kemerdekaan Indonesia denga sangat meyakinkan. Tata musik arahan Tya Subiakto Satrio masih saja terdengar terlalu berlebihan pada beberapa bagian, namun sama sekali bukanlah sebuah masalah yang berarti bagi kualitas presentasi film secara keseluruhan.
Hadir dengan dukungan penampilan akting dan tata produksi yang cukup solid, Soekarno yang diarahkan oleh Hanung Bramantyo sayangnya gagal untuk tampil dengan penceritaan yang kuat. Kehadiran banyaknya konflik tanpa pengembangan yang mendalam membuat Soekarno seakan hanya hadir bercerita tanpa pernah benar-benar mau memberikan penontonnya peluang untuk memahami maupun menjalin koneksi emosional dengan jalan cerita. Walaupun tidak sepenuhnya buruk – 30 menit terakhir yang berisi adegan detik-detik menjelang pelaksanaan proklamasi benar-benar mampu dieksekusi dengan baik – Soekarno tetap saja terasa sebagai sebuah presentasi yang megah namun kosong dalam penyampaiannya. Cukup mengecewakan.

 sumber : http://amiratthemovies.wordpress.com/

The conselor

Setelah sebelumnya bekerjasama lewat Prometheus (2012), Michael Fassbender kini kembali berada di bawah arahan Ridley Scott untuk film terbaru yang diarahkannya, The Counselor. Dalam film ini, Fassbender berperan sebagai seorang pengacara tampan dan sukses yang dalam kesehariannya dipanggil dengan sebutan sang konselor – dan nama karakternya sama sekali tidak pernah diungkap hingga akhir film. Atas saran sahabatnya, seorang pengusaha – sekaligus pengedar obat-obatan terlarang, Reiner (Javier Bardem), yang selalu menilai bahwa sang konselor kurang mampu mengembangkan harta dan posisi yang dimilikinya saat ini, sang konselor lalu memutuskan untuk turut terlibat dalam perdagangan obat-obatan terlarang yang menjanjikan keuntungan sangat besar.  Meskipun menguntungkan, rekan bisnis sang konselor, Westray (Brad Pitt), mengingatkan bahwa bisnis haram tersebut sangat beresiko tinggi mengingat sang konselor akan berhubungan langsung dengan kartel obat-obatan terlarang asal Meksiko yang dikenal tidak ragu untuk mengambil tindakan kekerasan jika mereka merasa dirinya terancam. Tetap saja, sang konselor memilih untuk terjun dan terlibat dalam bisnis perdagangan gelap tersebut.
Walaupun berjalan lancar pada awalnya, sebuah masalah terjadi dalam proses distribusi obat-obatan terlarang tersebut. Sialnya, salah seorang yang terlibat dalam terganggunya proses distribusi obat-obatan terlarang tersebut pernah berhubungan bisnis dengan sang konselor. Hasilnya, kini sang konselor harus menerima tuduhan bahwa dirinya telah berkhianat dan mencoba untuk merebut obat-obatan terlarang tersebut. Westray lantas mengingatkan sang konselor untuk segera pergi sejauh mungkin karena para kartel obat-obatan terlarang Meksiko tengah mengincar nyawanya. Dengan penuh putus asa, sang konselor berusaha menyelamatkan dirinya dan tunangannya, Laura (Penélope Cruz), sebelum para kartel tersebut berhasil menangkap mereka.
Mereka yang telah familiar dengan film-film yang diadaptasi dari novel karya Cormac McCarthy seperti No Country for Old Men (2007) dan The Road (2009) jelas telah turut mengenal dengan kekelaman jalan cerita yang hadir dalam The Counselor. Merupakan naskah cerita film layar lebar perdana yang dikerjakan oleh McCarthy, The Counselor masih membawakan tema-tema seperti ketamakan manusia, ego hingga berbagai tragedi di dalam jalan ceritanya. Namun, entah kesalahan berada pada Ridley Scott yang kurang mampu memahami naskah cerita yang ditulis oleh McCarthy atau naskah cerita McCarthy yang memang terlalu dangkal, The Counselor tidak pernah benar-benar mampu hadir sebagai sebuah jalan cerita yang utuh. Dalam 117 menit presentasi ceritanya, The Counselor terus menerus menghadirkan potongan kisah tanpa pernah sekalipun berniat untuk menjadikannya sebagai sebuah kesatuan yang sempurna. Membingungkan.
Buruk? Tidak juga. Meskipun penonton seperti dibiarkan untuk menghasilkan interpretasi tersendiri atas potongan-potongan audio visual yang disajikan Scott kepada mereka, The Counselor sama sekali tidak pernah terasa sebagai sebuah presentasi yang berkualitas rendahan. Scott mampu menghadirkan kekelaman kisah dalam jalan cerita film ini dengan presentasi yang begitu nyata dan… well… cukup mengganggu. 30 menit akhir pengisahan The Counselormungkin adalah bagian paling terstruktur dalam penceritaan film ini dan Scott berhasil menyajikannya dengan begitu baik sehingga tidak ada satupun penonton yang akan dengan mudah melupakan apa yang baru saja mereka saksikan.
Mari lihat jajaran pemeran yang berhasil dikumpulkan oleh Scott untuk The Counselor: Michael Fassbender, Cameron Diaz, Javier Bardem, Penélope Cruz hingga Brad Pitt. Jajaran pemeran dengan kemampuan akting yang jelas tidak perlu diragukan lagi dan Scott berhasil memaksimalkan penampilan setiap pengisi departemen aktingnya dengan begitu sempurna – terlepas dari kekurangan yang hadir akibat  minimnya pengembangan beberapa karakter. Fassbender sekali lagi membuktikan bahwa dirinya memiliki jangkauan akting yang begitu luas. Dalam The Counselor, Fassbender diberikan kesempatan untuk hadir dalam penampilan yang cenderung berubah secara emosional dalam setiap tahapan cerita. Dan Fassbender mengeksekusi setiap perubahan emosional karakternya tersebut dengan sukses! Penonton akan mampu merasakan bagaimana karakter yang diperankan Fassbender mengalami perubahan dalam jalan pemikiran dan sikapnya hingga turut merasakan rasa putus asa ketika karakternya telah demikian tersudut akibat sebuah keputusan fatal yang diambilnya.
Sayangnya, selain Fassbender, penampilan Diaz, Bardem, Cruz maupun Pitt hadir dalam kapasitas yang begitu terbatas akibat pengembangan karakter yang begitu minim. Karakter Malkina yang diperankan oleh Diaz sebenarnya sangat berpotensi untuk menjadi sosok antagonis yang kuat. Namun kemudian gagal karena minimnya porsi penceritaan yang diberikan pada karakter tersebut. Sama halnya dengan karakter Laura yang diperankan Cruz yang jelas hanya tampil sebagai karakter pendamping bagi karakter yang diperankan Fassbender. Untungnya, seluruh jajaran pemeran The Counselor tampil dalam penampilan akting yang sangat memuaskan. Dan didukung dengan penampilan tambahan dari John Leguizamo, Natalie Dormer, Goran Visnjic, Rosie Perez, Dean Norris, Bruno Ganz, Toby Kebbell, Edgar Ramirez hingga Rubén Blades, The Counselor adalah sebuah film dengan departemen akting yang sangat solid!
Ridley Scott jelas meminta penontonnya untuk melakukan lebih dari sekedar datang ke sebuah bioskop dan menikmati jalan cerita dari film yang mereka saksikan. Lewat The Counselor, Scott seperti menginginkan agar penonton mau memberikan usaha lebih untuk menyatukan berbagai teka-teki yang ia sajikan untuk kemudian mendapatkan interpretasi tersendiri mengenai apa yang tersaji dalam The Counselor. Bukan masalah besar, sebenarnya, jika saja Scott (dan Cormac McCarthy) turut mau bekerja lebih keras dalam menyajikan presentasi cerita yang tertata dengan lebih baik. The Counselor mungkin akan memberikan kesan yang cukup mendalam melalui penampilan para pemerannya yang berkelas serta jalan ceritanya yang sangat kelam – dan tragis. Namun, dengan penataan kisah yang terlalu acak, The Counselorkehilangan banyak esensinya dan akhirnya hadir sebagai sebuah sajian yang hampa pada keseluruhan presentasinya.

 http://amiratthemovies.wordpress.com/

47 Ronin


47 Ronin diadaptasi dari sebuah legenda asal Jepang yang berkisah mengenai empat puluh tujuh ronin – sebutan untuk para samurai yang  kehilangan tuannya akibat hak atas wilayah kekuasaan sang tuan dicabut oleh pemerintah – yang selama dua tahun menyusun rencana untuk membalaskan kematian tuannya. Kisah tersebut sebenarnya telah memiliki banyak sudut penceritaan yang dapat dikembangkan menjadi sebuah presentasi film aksi yang menarik. Namun, tentu saja, di tangan Hollywood, kisah tersebut kemudian diberikan berbagai konflik tambahan dengan menjadikan seorang aktor Hollywood menjadi bintang utama untuk dapat menjual film tersebut ke pasaran yang lebih luas. Bukan masalah besar sebenarnya jika saja elemen-elemen komersial tersebut mampu diimplementasikan dengan baik ke dalam jalan cerita yang dihadirkan. Sayangnya, hal tersebut tidak terjadi pada film yang juga menjadi debut penyutradaraan dari Carl Erik Rinsch ini.

Elemen Hollywood dalam penceritaan film ini dimulai dengan kehadiran karakter Kai, yang digambarkan sebagai seorang anak yang terlahir dari hubungan seorang pelaut asal Inggris dengan wanita penghibur asal Jepang. Semenjak kecil, Kai dirawat oleh sekelompok orang-orang terbuang – yang merupakan jelmaan setan – di tengah hutan. Karena tidak setuju dengan prinsip hidup orang-orang tersebut, Kai lantas memilih untuk melarikan diri. Saat melarikan diri itulah, Kai ditemukan oleh Lord Asano (Min Tanaka) dan kemudian merawatnya. Walau hanya diperlakukan sebagai pembantu, dengan para samurai seringkali memandang rendah dirinya akibat garis keturunannya yang tidak murni berasal dari Jepang, Kai tumbuh dewasa (Keanu Reeves) menjadi sosok yang tangguh. Ia bahkan berhasil menarik perhatian Mika (Kou Shibasaki) yang merupakan puteri tunggal dari Lord Asano.

Elemen penceritaan Hollywood lainnya yang hadir dalam 47 Ronin datang dari penceritaan mengenai Lord Kira (Tadanobu Asano) yang berusaha untuk menjatuhkan Lord Asano sekaligus merebut wilayah kekuasaannya. Dalam versi film, Lord Kira dikisahkan mendapat bantuan dari seorang penyihir bernama Mizuki (Rinko Kikuchi) untuk memuluskan segala rencananya. Rencana tersebut berhasil berjalan dengan baik. Lord Kira lantas mendapatkan seluruh wilayah kekuasaan Lord Asano, mengusir seluruh samurai sekaligus memaksa Mika untuk dapat menikahinya. Tidak tinggal diam, para samurai yang dipimpin oleh Oishi (Hiroyuki Sanada) kemudian bekerjasama dengan Kai dan para samurai lainnya untuk menyusun rencana dalam membalaskan perbuatan keji Lord Kira sekaligus menyelamatkan Mika dari pernikahan yang tidak diinginkannya.

Kelemahan terbesar 47 Ronin sebenarnya sama sekali bukan berasal dari keputusan Carl Erik Rinsch untuk menggantikan Bahasa Jepang dengan Bahasa Inggris sebagai bahasa penghantar dialog dalam film ini. Atau beberapa perubahan pada beberapa karakter maupun garis penceritaan dalam kisah asli legenda mengenai empat puluh tujuh ronin yang berasal dari Jepang tersebut. Bahkan tanpa adanya kelemahan-kelemahan tersebut, naskah cerita yang ditulis oleh Chris Morgan (Fast and Furious 6, 2013) dan Hossein Amini (Snow White and the Huntsman, 2012) telah begitu terasa lemah pada banyak bagiannya. Keputusan untuk mengedepankan karakter Kai yang diperankan oleh Keanu Reeves terbukti merupakan kesalahan besar ketika Morgan dan Amini sendiri gagal untuk memberikan kedalaman karakter yang mencukupi pada karakter tersebut. Sebagai sosok protagonis utama – yang dapat dianggap sebagai sosok pahlawan dalam film ini – karakter Kai sama sekali tidak pernah benar-benar tampil menunjukkan karakter heroiknya. Jalinan kisah romansa yang dibentuk antara dirinya dengan karakter Mika juga tampil datar ketika plot penceritaan tersebut seringkali hanya menjadi tambalan kisah belaka dan sama sekali tidak pernah tampil dominan. Ditambah dengan penampilan Reeves yang cukup datar, karakter Kai menjadi sosok utama yang sama sekali gagal untuk tampil menarik perhatian para penonton film ini.

Menyaksikan 47 Ronin mungkin akan membuat banyak orang berharap bahwa film ini dapat lebih berfokus pada kisah asli legenda asal Jepang yang menjadi sumber ceritanya dengan memberikan peran yang lebih besar bagi karakter-karakter asli tersebut. Terbukti, plot penceritaan mengenai empat puluh tujuh ronin yang berusaha untuk membalaskan dendam tuan mereka mampu tampil lebih hidup dan menarik. Meskipun karakter-karakter yang berperan dalam plot penceritaan tersebut terkesan begitu diminimalisir kehadirannya demi memperbesar porsi peran dari karakter Kai, namun para aktor yang berasal dari Jepang seperti the film Hiroyuki Sanada, Tadanobu Asano dan Min Tanaka berhasil hadir dengan penampilan yang sangat mengesankan. Begitu pula dengan Rinko Kikuchi yang terlihat mampu bersenang-senang dengan karakternya sebagai seorang penyihir. 47 Ronin juga berhasil hadir dengan kualitas tata produksi yang meyakinkan, khususnya dari sisi tata kostum, sinematografi dan art direction.
Dengan tujuan untuk memberikan citarasa internasional, Hollywood kemudian memberikan beberapa perubahan pada sebuah kisah legendaris yang berasal dari Jepang. Perubahan-perubahan tersebut dilakukan dengan menambahkan karakter berpenampilan Hollywood, plot bernuansa mistis serta sebuah jalinan kisah romansa. Sayangnya, perubahan-perubahan itulah yang kemudian justru membuat 47 Ronin terasa berjalan terlalu datar ketika kedua penulis naskahnya, Chris Morgan dan Hossein Amini, gagal untuk memberikan pengembangan kisah yang berimbang daya tariknya dengan kisah legenda asli yang coba dihadirkan oleh 47 Ronin. Sebagai sebuah debut penyutradaraan, Carl Erik Rinsch sebenarnya telah memberikan usaha yang terbaik dengan menghadirkan ritme penceritaan yang tepat sekaligus merangkai penampilan film ini dengan tata produksi yang kuat. Meskipun begitu, tetap saja, berbagai usaha tersebut tidak akan berhasil tanpa diiringi dengan struktur cerita yang benar-benar kuat. 47 Ronin tampak sebagai sebuah mimpi yang ambisius namun tanpa diiringi dengan usaha yang kuat untuk mewujudkannya.


The hangover 3


Memulai perjalanannya pada tahun 2009, The Hangover yang diarahkan oleh Todd Phillips (Old School, 2003) mampu meraih sukses luar biasa berkat keberanian Phillips dan duo penulis naskah, Jon Lucas dan Scott Moore, dalam menghadirkan deretan guyonan yang melabrak berbagai pakem komedi dewasa tradisional Hollywood. Tidak hanya film tersebut mampu meraih kesuksesan secara kritikal serta pendapatan komersial sebesar lebih dari US$450 juta – dari biaya produksi hanya sebesar US$35 juta!, The Hangover juga berhasil membawa ketiga nama pemeran utamanya, Bradley Cooper, Zach Galifianakis serta Ed Helms, ke jajaran aktor papan atas Hollywood. Kesuksesan tersebut berlanjut dengan The Hangover Part II (2011), yang berhasil meraih pendapatan komersial sebesar lebih dari US$581 juta meskipun gagal untuk kembali mencuri hati para kritikus film dunia akibat jalan cerita yang dinilai terlalu familiar dan dieksekusi dengan penggalian yang begitu dangkal.

Dan sekarang… The Wolfpack is back for one last time! Dalam The Hangover Part III, yang direncanakan akan menjadi bagian penutup dari franchise yang telah mengumpulkan total pendapatan sebesar lebih dari US$1.25 miliar ini, The Wolfpack kembali ke Las Vegas untuk, tentu saja, menimbulkan berbagai kekacauan dengan mengatasnamakan rasa persahabatan dan bersenang-senang. Jangan khawatir… untuk Anda yang mengira bahwa bagian ketiga ini masih akan memanfaatkan premis yang sama dengan dua seri sebelumnya, Phillips, yang juga bertugas sebagai penulis naskah bersama dengan Craig Mazin, sepertinya telah belajar cukup banyak dari kesalahannya di seri yang lalu. Tentu, The Hangover Part III masih menghadirkan deretan guyonan bodoh yang telah menjadi ciri khas bagi franchise ini. Namun dengan alur cerita yang cukup segar plus chemistry ketiga pemeran utamanya yang telah berjalan begitu erat, The Hangover Part III mampu menjelma menjadi sebuah sajian hiburan yang begitu memuaskan.

Dibuka dengan adegan yang terkesan sebagai parodi bagi film The Shawshank Redemption (1994) – dengan melibatkan karakter Leslie Chow (Ken Jeong) di dalamnya, The Hangover Part III menempatkan jalan ceritanya pada linimasa dua tahun setelah berbagai kejadian yang terjadi di seri sebelumnya. Kini, masing-masing dari anggota The Wolfpack, Phil Wenneck (Cooper), Stuart Price (Helms), Alan Garner (Galifianakis) dan Doug Billings (Justin Bartha), telah memutuskan untuk menginggalkan kehidupan mereka yang selalu diisi dengan berbagai kekacauan serta berusaha untuk hidup dengan tenang… dan normal layaknya kebanyakan manusia lainnya. Sayangnya, usai kematian sang ayah, Sid (Jeffrey Tambor), kondisi kejiwaan Alan menjadi menurun dengan dirinya terus-menerus melakukan berbagai perbuatan yang membahayakan. Tidak tega melihat Alan, Doug bersama dengan istrinya, Tracy (Sasha Barrese), akhirnya mengumpulkan seluruh anggota The Wolfpack serta teman-teman terdekat Alan untuk melakukan intervensi dan membujuknya agar mau masuk ke sebuah fasilitas rehabilitasi jiwa di Arizona.
Walau awalnya menolak, namun melihat kesempatan tersebut dapat ia manfaatkan untuk bertemu dan berkumpul kembali dengan ketiga sahabat akrabnya, Alan lalu menyetujui untuk melakukan perjalanan tersebut. Well… tentu saja, masalah kemudian akan datang di tengah-tengah perjalanan mereka: mobil yang dikendarai keempatnya ditabrak oleh seorang pimpinan mafia, Marshall (John Goodman). Marshall memberitahu bahwa Leslie Chow telah mencuri harta emas yang ia miliki dan karena Alan adalah satu-satunya orang yang masih berhubungan dengan Leslie, maka Marshall meminta Alan untuk segera menghubungi Leslie dan merebut kembali emas yang telah ia curi. Marshall lalu menculik Doug dan memberikan waktu tiga hari bagi Alan dan teman-temannya untuk mencari keberadaan Leslie… atau ia akan membunuh Doug.

Keunggulan dari The Hangover Part III jika dibandingkan dengan dua seri sebelumnya – selain perbedaan premis ceritanya, tentu saja – adalah film ini lebih terkesan sebagai sebuah usaha untuk menghadirkan cerita mengenai perjalanan yang dilakukan beberapa karakter namun kemudian berjalan dengan buruk daripada sebagai sebuah usaha untuk menghadirkan deretan guyonan-guyonan bodoh nan kasar. Jangan salah. Jenis guyonan tersebut masih dapat ditemukan pada beberapa sudut penceritaan The Hangover Part III namun Todd Phillips dan Craig Mazin mampu menyajikannya sebagai bagian dari sebuah kesatuan cerita daripada sebagai sajian utama dari jalan cerita The Hangover Part III. Divisi penulisan cerita sendiri bukannya hadir tanpa masalah. Memerlukan beberapa saat untuk jalan cerita The Hangover Part III untuk dapat benar-benar bergerak maju dan tampil dinamis. Namun, ketika para karakter telah mendapatkan ruang pergerakan masing-masing, jalan cerita film ini kemudian berhasil melaju dengan ritme penceritaan yang cepat dan lugas hingga masa akhir penceritaannya.

Bagian terunggul dari The Hangover Part III sendiri jelas muncul dari penampilan para jajaran pemerannya. Setelah empat tahun bersama dalam franchise ini, Bradley Cooper, Zach Galifianakis dan Ed Helmsjelas terlihat begitu menikmati kehadiran satu sama lain dalam masa-masa proses produksi film ini. Chemistry yang dihadirkan oleh ketiga aktor tersebut benar-benar kuat dan sangat meyakinkan. Jika Galifianakis masih tampil dengan standar karakter yang telah ditetapkan untuknya semenjak awal franchise ini lahir, maka Cooper dan Helms mampu terlihat begitu bebas dalam menginterpretasikan karakter yang mereka perankan. Pun begitu, ketiga aktor tersebut berhasil tampil kuat, baik dalam menghadirkan sisi drama maupun tampil gila dalam menghadirkan guyonan yang disediakan oleh naskah cerita film ini.
Juga yang mendapatkan pengembangan yang lebih baik adalah karakter-karakter pendukung yang dihadirkan Phillips dan Mazin. Karakter Leslie Chow yang diperankan oleh Ken Jeong mungkin mendapatkan porsi penceritaan yang lebih besar. Namun, Phillips dan Mazin mampu mengeksplorasi karakter tersebut dengan lebih baik sehingga jauh dari kesan mengesalkan – seperti kesan yang dihadirkan pada seri sebelumnya. The Hangover Part III juga menghadirkan love interest yang sangat menarik untuk karakter Alan Garner yang diperankan oleh aktris Melissa McCarthy. Dukungan tampilan lain dari John Goodman, Justin Bartha, Heather Graham serta Mike Epps semakin memperkuat kualitas departemen akting film ini.

So… yah… this is the end. The Hangover memang tidak pernah dikenal sebagai sebuah komedi yang cerdas dalam menghantarkan guyonan maupun jalan ceritanya. Namun dalam The Hangover Part III, Todd Phillips sepertinya ingin mengingatkan sekali lagi kepada dunia mengenai berbagai elemen yang dahulu mampu membuat mereka jatuh cinta pada franchise ini: guyonan bodoh nan kasar yang terpadu dengan sangat baik dalam kisah persahabatan yang terjalin antara karakter-karakternya. And it works. Terima kasih atas usaha Phillips dan Craig Mazin untuk menghadirkan jalan cerita yang lebih lugas serta chemistry para pemeran film ini yang telah terjalin semakin kuat, The Hangover Part IIIberhasil tampil begitu menghibur di setiap perjalanan durasi ceritanya. Akankah banyak orang merindukan kehadiran The Wolfpack di masa yang akan datang? Mungkin tidak. Namun The Hangover Part III berhasil menjadi sebuah sajian perpisahan yang cukup memuaskan.

sumber : http://amiratthemovies.wordpress.com/


Film Thailand SuckSeed

Film komedi romantis yang beredar pada tahun 2011 ini sangat populer di Thailand dan Indonesia.
Sinopsis Film Thailand SuckSeed

Film yang dibintangi oleh Jirayu La-ongmanee, Patchara Jirathiwat dan Thawat Pornrattanaprasert ini menceritakan tentang Ped (diperankan oleh Jirayu). Dia bersahabat dengan Koong (diperankan oleh Patchara) sejak masih kecil. Koong ini punya saudara kembar yang bernama Kay. Koong dan Kay sangat populer di kalangan gadis-gadis SMA karena mereka mahir bermain gitar.

Suaru hari Koong mengajak Ped untuk membentuk sebuah band rock. Teman mereka yang bernama Ex (diperankan oleh Thawat) pun diajak. Sebenarnya tujuan dibentuknya band tersebut agar mereka bisa menarik perhatian para gadis sekolah. Tapi sayangnya penampilan mereka hancur dan musik yang diusung band itu dirasa cukup aneh.

Keadaan mereka berubah drastis dengan datangnya seorang gadis murid pindahan dari sekolah lain yang bernama Ern (diperankan oleh Nattasha Nauljam). Ternyata Ern tidak lain adalah teman masa kecil Ped di SD yang dulu diam-diam disukai Ped. Karena sangat mahir memainkan senar gitar Ern diajak juga untuk bergabung, dia pun bersedia bergabung ke band mereka yang dinamakan SuckSeed itu.

Kehadiran Ern ini membawa warna baru ke dalam musik mereka agar bisa lebih diterima para murid SMA. Namun Ern juga membawa dinamika hubungan antara Ped, Koong dan Ern sendiri. Ped sebenarnya ingin menyatakan rasa sukanya pada Ern yang dulu belum sempat diutarakannya, Tapi masalahnya ternyata Koong juga menyukai Ern. Hubungan cinta segitiga ini membuat Ped bimbang.

Akankah band SuckSeed ini bisa populer dan diterima masyarakat? Siapa yang akan dipilih Ern, Apakah Ped atau Koong? Tonton sendiri filmnya ya..
sumber : http://www.ristizona.com/

Kamis, 09 Januari 2014

ATM (Er Rak Error)


Pepatah mengatakan seorang pria rentan godaan terhadap harta, tahta dan wanita. Dan bila dibalik maka seorang wanita akan rentan godaan terhadap harta, tahta dan pria. Film buatan Thailand ini bercerita setidaknya tentang salah satu poin dalam pepatah tersebut yaitu tahta. Seseorang bisa mencintai kekasihnya dengan segenap hati namun juga bisa luntur hanya karena tahta. Dikemas dalam suasana komedi dan bukan drama melankolis sehingga tidak perlu terlalu takut akan menguras air mata.

Jib (Preechaya Pongthananikorn) seorang wanita karir yang bekerja sebagai wakil direktur di sebuah bank bernama JNBC (Japan National Bank of Commerce), sebuah bank dari Jepang. Peraturan di bank itu menyebutkan bahwa sesama pegawai tidak boleh menjalin hubungan percintaan jika ketahuan maka salah satunya harus keluar. Jib adalah salah satu orang yang berwenang untuk menyidangkan hal itu. Sayangnya dibalik semua itu ternyata dia menjalin hubungan dengan Suer (Chantavit Dhanasevi) yang tak lain adalah bawahannya sendiri.

Setelah kurang lebih selama 5 tahun menjalani cinta secara sembunyi-sembunyi maka diputuskan untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi yaitu perkawinan. Sayangnya ada hambatan dengan peraturan perusahaan sehingga siapa yang akan keluar dari pekerjaannya. Di sinilah ego masing-masing muncul menjadikan sebuah konflik yang mau tidakmau harus dihadapi. Suer sebagai seorang laki-laki mengharapkan dia yang tetap bekerja dengan alasan sebagai kepala keluarga dan seorang istri tugasnya mengurus rumah tangga di rumah. Jib mempunyai alasan bahwa dia memiliki jabatan, karir dan gaji yang lebih tinggi sehingga sayang bila dilepas begitu saja. Egoisme masing-masing merupakan salah satu ciri orang-orang Asia terkait tahta apalagi jaman sekarang ini untuk mencari kerja saja sulit sekali.

Pada saat yang bersamaan terjadi kesalahan dalam pemasangan software baru di sebuah mesin ATM (Automatic Teller Machine) di dekat lapangan bola. Gara-garanya adalah pegawainya tidak paham bahasa Jepang. Uang yang keluar dari mesin ATM akan digandakan dua kali lipat dari semestinya yang diambil. Akibatnya tentu saja heboh, berawal dari satu mulut akhirnya bisa menyebar kemana-mana mengenai mesin ATM tersebut. Peud (Thawat Pornrattanaprasert) secara tak sengaja mendapatkan rejeki tersebut dan langsung menelepon kepada temannya Pad (Chaleumpol Tikumpornteerawong) yang sedang menonton bola. Karena obrolan mereka keras maka terdengar orang-orang disampingnya. Tak ayal lagi semua orang menuju mesin ATM tersebut dan penonton di lapangan bola tersebut menjadi kosong melompong. Lucu bukan ?

Jib mendapat tugas untuk menyelidiki kasus itu dengan melakukan pengecekan melalui kamera cctv, daftar orang pengambil ATM dan mendatangi kantor cabang mesin ATM itu berada. Pimpinan bank juga menugaskan untuk menarik kembali uang yang double tersebut. Karena tugasnya cukup berat maka Suer memanfaatkan kesempatan itu dengan memberikan tantangan. Bila Suer bisa menyelesaikan kasus tersebut maka Jib yang harus keluar dari pekerjaannya dan sebaliknya bila Jib yang mampu menyelesaikannya maka Suer harus keluar. Barang siapa yang bisa menagih uang yang double dari nasabah dalam jumlah paling besar maka dialah yang menang.

Baik Jib maupun Suer menempuh berbagai cara untuk menemukan nasabah-nasabahnya bahkan dengan cara-cara yang curang sekalipun. Misalnya saja menaruh obat tidur pada minuman, menyamar sebagai polisi, menyabotase fax dll. Jumlah uang yang dikumpulkan mereka berdua sama besarnya dan hanya tinggal satu nasabah terakhir yang akhirnya menjadi rebutan karena akan menjadi poin penting sebagai pemenang.

Keterlibatan nasabah diwakili oleh Peud yang menggunakannya untuk membeli sepeda motor, Pad yang menambal gigi emas, tukang laundry yang membeli mesin cuci, pecinta hewan yang membeli buaya. Mereka tidak bisa membayar sekarang karena tidak punya uang walaupun tahu mereka bersalah. Jib menyadari bahwa pihak bank sebenarnya bersalah juga makanya dia memutihkan uang tersebut. Suer merasa gembira dengan keputusan itu.

Sayangnya godaan tahta begitu mengguncang. Sekembalinya Jib di kantor pusat ternyata mengeluarkan rekaman pengakuan dari nasabah-nasabah itu dan melaporkannya kepada pimpinan bank. Otomatis pihak bank menagih kembali. Peud, Pad, tukang laundry dan pecinta buaya ditelepon pihak bank untuk membayar kembali padahal sesuai janji Jib, mereka diputihkan. Suer protes kepada Jib karena apa yang dijanjikannya ternyata tidak ditepati. Akhirnya karena merasa malu maka Jib memutuskan keluar dari pekerjaannya.

Suer yang merasa bertanggung jawab akan janji tersebut, meminjamkan uang kepada keempat orang tersebut untuk membayar ke bank dan mereka boleh mencicilnya. Sebenarnya uang tersebut adalah untuk biaya perkawinan mereka sehingga otomatis perkawinan mereka batal. Dan tentu saja cinta mereka kandas. Tidak ada yang menang, semuanya kalah. Inti cerita yang bisa diambil maknanya adalah cinta butuh pengorbanan dan bukan keangkuhan.

Film ini adalah bergenre komedi sehingga ada hal-hal yang tidak masuk akal dan berlebihan jadi harap maklum. Format film dengan resolusi tinggi yang terang dan jelas cukup enak ditonton dibandingkan dengan produksi film Indonesia yang tidak terang atau kabur dengan resolusi rendah.


sumber : http://review-filmku.blogspot.com/

Sinopsis Man Of Steel (3D)

 Film yang bercerita tentang superhero ini diambil dari cerita komik hasil karya dari Joe Shuster dan Jerry Siegel yang diterbitkan oleh DC Comics. Terbit pertama kali pada tahun 1938 dalamAction Comics edisi kesatu. Untuk pertama kalinya ditayangkan dalam versi layar bioskop yaitu pada tahun 1951 dengan judul Superman and The Mole Men yang dibintangi oleh George Reeves. Sedangkan mulai tahun 1978 peran Superman diganti oleh Christopher Reeve yang nama belakangnya mirip dan mencapai kepopulerannya hingga saat ini. Selanjutnya pada tahun 2006 Brandon Routh menggantikan posisi Christopher Reeve karena sudah meninggal dunia. Karena dianggap kurang sukses maka pada tahun 2013 ini, peran tersebut dimainkan oleh Henry Cavill.

 Di sutradarai oleh Zack Snyder yang menghasilkan tontonan dengan durasi yang lama, kurang lebih 2 jam 23 menit. Pada peluncuran perdananya berhasil meraih posisi nomor satu box officepada akhir pekan 14-16 Juni 2013 dengan pendapatan lebih dari 113 juta dollar atau sekitar 1,13 triliun rupiah. Film ini mempunyai sebutan sebagai film reboot yaitu istilah untuk menunjukkan bahwa film ini pernah dibuat sebelumnya dan berseri. Maka dengan reboot, film akan mulai lagi dari cerita awal atau seri pertamanya.

Cerita di mulai dari situasi planet Krypton yang mengalami kekacauan karena eksplorasi yang berlebihan. Jor-El (Russell Crowe) sudah memperingatkan para dewan pemimpin akan kehancuran planet Krypton dengan cara persuasif. Demikian juga Jenderal Zod (Michael Shannon) yang tidak setuju namun dilakukan dengan cara yang salah yaitu melakukan perang dan mengkudeta dewan pemimpin. Jor-El berhasil melakukan pembuahan secara alami bersama sang istri, Lara dan melahirkan bayi yang diberi nama Kal-El. Jenderal Zod berhasil membunuh Jor-El sedangkan sang bayi berhasil diselamatkan dan dikirim menuju bumi.

Pada akhirnya Jenderal Zod berhasil ditangkap dan ditahan dalam pesawat khusus. Seperti yang diperkirakan sebelumnya maka kehancuran planet Krypton benar-benar terjadi dan tak satupun yang bisa selamat. Dampak dari ledakan tersebut ternyata membebaskan Zod dan kawan-kawannya. Zod berusaha mencari planet lain yang bisa digunakan untuk kelangsungan hidupnya dan kelompoknya.

Sang bayi Kal-El berhasil mendarat di bumi di daerah Kansas dan ditemukan oleh keluarga petani Jonathan Kent (Kevin Costner) dan istrinya, Martha Kent. Bayi tersebut diberi nama Clark Kent. Masa kecil, masa remaja dan masa dewasa Clark merupakan masa yang sulit baik bagi diri sendiri maupun bagi orang lain di sekitarnya. Dia dianggap sebagai anak yang aneh dan penyendiri oleh teman-temannya bahkan kerap kali di bully. Bahkan pada saat menolong orangpun sempat dianggap anak yang aneh. Ayahnya berusaha memberikan pengertian bahwa tidak perlu menunjukkan kekuatannya karena banyak orang yang tidak siap akan hal itu. Hal ini tentu saja bertolak belakang dengan keinginannya untuk menolong orang. Yang lebih menyakitkan lagi pada saat ayahnya tewas terkena badai tornado padahal saat itu Clark bisa menolong dengan kekuatannya. Tapi sang ayah rela agar Clark tidak menunjukkan kekuatannya di depan mata orang banyak.

Clark berusaha mencari tahu asal-usulnya dan menemukan sebuah pesawat yang terpendam di gurun es dan muncullah Jor-El, ayahnya dalam bentuk bayangan yang menjelaskan secara detil latar belakangnya. Tiba-tiba muncul wartawati Lois Lane yang bekerja di koran daily planet yang sebelumnya menguntit sehingga tahu keadaan Clark. Lois menulis artikel koran tentang pesawat dan adanya manusia lain yang berasal bukan dari bumi tetapi tidak disetujui oleh kepala redaksi. Lois pun melalui perantara menyebarkannya melalui internet. Alhasil dia diskors oleh kepala redaksi.

Di saat yang sama badan antariksa Amerika mendeteksi adanya pesawat asing yang menuju bumi dan ada warga yang memfoto atau merekam gambarnya serta televisi yang menyiarkan berita itu. Bahkan Jenderal Zod mengancam pihak keamanan agar menyerahkan Clark. Mau tak mau Lois menjadi incaran dan ditangkap pihak FBI karena dianggap tahu banyak tentang artikel yang dibuat. Clark yang berubah menjadi Superman melakukan barter dengan Lois dan bersedia ditangkap FBI. Clark menganggap yang dicari Jenderal Zod adalah dirinya bukan Lois.

Ternyata Jenderal Zod ingkar janji, dia menginginkan Lois juga ikut ditangkap dan dibawa ke pesawat asing. Superman kekuatannya menjadi hilang ketika berada di pesawat asing sehingga tidak bisa melakukan perlawanan. Dia diminta untuk menyerahkan codec milik ayahnya yang dikirim ke bumi bersamaan ketika bayi di mana codec itu berisi data seluruh bayi Krypton. Rupa-rupanya bayi–bayi di planet Krypton dihasilkan dari pembuahan yang tidak alami. Codec itu ternyata bukan berupa benda atau alat melainkan sudah melebur ke dalam tubuh Superman.

Pada mulanya terjadi pertarungan segitiga antara Jenderal Zod, Superman dan FBI namun akhirnya Superman bisa meyakinkan pada FBI bahwa mereka berdua tidak bermusuhan dan yang perlu dilawan adalah Jenderal Zod dan anak buahnya. Perkelahian antara manusia super dengan manusia super sangat dahsyat dan penuh kehancuran.

Jenderal Zod mempunyai rencana untuk membangun kembali planet Krypton di bumi tentu saja dengan mengorbankan banyak nyawa manusia. Dia menggunakan ”mesin dunia” yang dipasang pada sisi utara dan selatan sehingga menghasilkan getaran gaya gravitasi yang bisa mengangkat mobil dan menghempaskannya kembali, meruntuhkan serta menghancurkan gedung-gedung bertingkat. Mesin dunia bisa membelokkan peluru kendali dengan energi kinetik yang dimilikinya. Dengan segala upayanya, Superman berhasil menghancurkan mesin dunia sekaligus membunuh Jenderal Zod.

Film ini penuh dengan adegan aksi perkelahian dan pertarungan dengan memanfaatkan teknologi CGI. Unsur 3 Dimensi tidak begitu banyak membantu karena kebanyakan adegan dilakukan dengan gerakan cepat sehingga kecepatan mata dalam merespon efek gerakan tidak dapat menstimulasi dengan baik. Design baju yang digunakan sangat berbeda dengan Superman sebelumnya yang berwarna biru dan celana segitiga merah. Kali ini di design dengan warna gelap agak kehitaman dengan tekstur berjala-jala seperti punya Spiderman.

Karakter Superman berbeda dengan sebelumnya. Kali ini digambarkan dengan masa kecil yang kurang bahagia dan penuh penderitaan terutama dari segi psikis termasuk ketika dewasa yang harus berpindah dari satu kota ke kota yang lain. Pekerjaannya pun kalau sebelumnya adalah seorang wartawan maka sekarang menjadi buruh di kapal dan pelayan restoran. Menjadi wartawanpun hanya ditampilkan sebentar di akhir film. Sosok Henry Cavill menurut penulis sebenarnya kurang pas karena terlihat terlalu berotot dan wajahnya terlalu sangar dengan brewoknya walaupun sudah dicukur tapi masih terlihat sisa brewoknya. Seharusnya sosok Superman terlihat manis dan klimis serta tidak berotot karena ini bukanlah Hulk melainkan manusia super yang tidak mempan ditembus peluru.

Film ini berakhir dengan kemenangan Superman setelah baku hantam dan duel yang memporak-porandakan kota. Namun tewasnya Jenderal Zod diperoleh dengan begitu gampang yaitu dipiting lehernya. Padahal sebelumnya ditampilkan begitu kuatnya tubuhnya bahkan gedung-gedung ditabrak dan aspal jalanan berbenturan, sama sekali tidak melukai tubuhnya. Seharusnya bisa dibuat yang lebih spekatkuler lagi cara matinya.


Secara keseluruhan film ini, penulis merekomendasikan untuk menontonnya apalagi menjelang liburan anak sekolah.


sumber : http://review-filmku.blogspot.com/

Jack Reacher


Jack Reacher adalah sebuah karakter yang diambil dari serial novel berjudul sama yang ditulis oleh Lee Child yang merupakan nama samaran dari Jim Grant yang berasal dari Inggris dan sekarang tinggal di kota New York. Seri novel berjudul One Shot yang merupakan karyanya ke sembilan dan dirilis pada tahun 2005 dijadikan tema dalam film ini. The New York Times menobatkannya sebagai Best Selling Author atau penulis dengan penjualan terlaris.

James Barr (Joseph Sikora) dituduh telah membunuh dengan cara menembak korbannya dari jarak jauh dan tak tanggung-tanggung ada 5 nyawa yang menjadi korbannya. Kelima orang tersebut berada ditempat yang salah dan di waktu yang salah. Penembakan dilakukan secara acak di suatu tempat. Kepolisian menemukan bukti-bukti yang mengarah ke Barr diantaranya selongsong peluru di tempat parkir, uang coin di kotak parkir, peluru yang dibuat sendiri dikamarnya.  

Pada saat diinterogasi oleh pihak kepolisian yang dikepalai oleh Emerson (David Oyelowo) Barr yang dalam keadaan bingung, tidak tahu harus berkata apa karena merasa dirinya bukan pelakunya. Tidak mengaku pasti akan “disiksa” dan mengakupun pasti tetap ditekan. Maka satu-satunya cara adalah menyebut nama Jack Reacher (Tom Cruise) yaitu orang yang dikenalnya dan yang tahu tentang Barr. Dengan harapan bahwa Reacher dapat menyelidiki siapa pelaku sebenarnya.

Reacher adalah mantan provost tentara militer yang sering bertugas diluar Amerika dan pernah mendapat medali kehormatan. Hidupnya berkelana dari satu tempat ke tempat lainnya. Dia tidak pernah meninggalkan jejak dan bahkan tidak punya kartu kredit. Hubungannya dengan Barr adalah Dia merupakan penyelidik dari Barr pada saat bertugas dulu. Barr pernah melakukan kesalahan dengan menembak orang pada saat perang teluk dan Reacher adalah orang yang mengurusinya namun tidak menghukumnya melainkan memberikannya kesempatan lagi. Barr berjanji tidak akan melakukan kesalahan lagi dan bila melakukan lagi maka Reacher yang akan mencarinya dan menghabisinya.  

Helen (Rosamund Pike) seorang pembela hukum yang mendampingi Barr walaupun mereka belum sempat bertemu. Barr keburu dianiaya oleh sesama tahanan sehingga koma dan dirawat di rumah sakit. Helen bertemu dengan Reacher dan membujuknya untuk membantu kasus ini. Pada awalnya Reacher menolak namun akhirnya setuju. Sebagai pembela, Helen berlawanan dengan ayahnya sendiri yang menjadi seorang Jaksa wilayah. Mau tak mau perseteruan ayah dan anak menghiasi film ini.

Kepintaran dan kepandaian serta ketelitian Reacher memberikan analisa yang baik terhadap kasus ini dan akhirnya terbukti bahwa Barr tidak bersalah. Sesuai dengan kebiasaan Barr, apabila melakukan pembunuhan tersebut maka tidak dilakukan di tempat parkir melainkan dipinggir jalan dan dalam mobil. Tidak meninggalkan selongsong peluru agar tidak terendus bukti-buktinya. Posisi matahari harus ada di belakang agar tidak mengganggu pandangan. Bahkan tembakan Barr tidak pernah meleset sedangkan kasus ini ada tembakan yang meleset.

Selanjutnya Reacher juga menganalisa bahwa kasus ini sebenarnya adalah pembunuhan terhadap satu orang saja namun pelaku ingin mengaburkan motivnya dengan menambah korban menjadi lima orang. Reacher menemukan data bahwa penembak sebenarnya adalah Charlie (Jai Courtney) yang merupakan anak buah Zec (Werner Herzog) yang dibayar untuk membunuh seorang pengusaha wanita pemilik Oline Archer yang tidak ingin perusahaannya diakuisisi. Sayangnya perusahaan pengakuisisi itu menghalalkan segala cara termasuk dengan cara membunuh.
Seperti biasanya, pasti ada sosok seorang pengkhianat yang membantu penjahat. Ada dua orang yang dicurigai oleh Reacher yaitu Ayah Helen yang mempunyai reputasi tidak pernah kalah dalam bersidang atau Emerson yang merupakan kepala polisi. Dan jawabannya ternyata adalah Emerson. Emerson berhasil menculik Helen dan menjadikannya sebagai sandera.

Reacher mau tak mau harus membebaskan Helen dan dibantu oleh pemilik club menembak yaitu Cash (Robert Duvall), merekapun melawan kelompok Zec.

Film ini merupakan film sejenis Sherlock Holmes yang memiliki misteri dan teka-teki untuk dipecahkan. Sosok Tom Cruise sangat piawai dalam memerankannya, terlihat cerdas dan pintar. Rosamund Pike terlihat mature dan elegance serta tampak terpelajar. Penampilan Werner Herzog cukup menyeramkan wajahnya dan terlihat berdarah dingin walaupun sudah tua.

Gangguan dari kelompok Sandy menambah suasana komedi dalam film ini, mau tak mau penonton ikut tertawa. Anggap saja hal itu sebagai pengencer ketegangan dan keseriusan yang ada dalam film ini.

Sayangnya cara bertarung dan berkelahinya biasa-biasa saja, tidak tampak heboh dan wah seperti film barat umumnya. Ada satu adegan yang sedikit membuat penulis bertanya-tanya yaitu pada saat Reacher menembak di club, tampak seseorang menghampirinya dari belakang ditambah musik yg seolah-olah orang tersebut adalah ancaman bagi Reacher. Sayangnya tidak terjadi apa-apa dan tidak ditunjukkan kelanjutannya orang itu. Sepertinya sesi tersebut kena gunting sensor.


sumber : http://review-filmku.blogspot.com/

GI Joe 2 (Retaliation) 3D


Film ini merupakan seri kedua dari serial GI Joe yang pertama kali di rilis pada tahun 2009 dengan judul The Rise of Cobra. Sebuah serial yang diangkat dari cerita komik produksi Marvel. Karakter Gi Joe sendiri sebenarnya merupakan mainan action figure yang diproduksi oleh perusahaan Hasbro yang pertama kali diperkenalkan pada tahun 1964. Film ini disutradarai oleh Jon M. Chu yang masih jarang terdengar namanya dan tidak banyak yang dihasilkannya. Film ini dilarang main di Pakistan karena dianggap memberi stigma negative terhadap Negara Pakistan.



Duke (Channing Tatum) dan Roadblock (Dwayne Johnson) serta pasukannya bertugas di Pakistan untuk mencuri nuklir. Misi mereka berhasil dengan sukses. Pada saat hendak dijemput pulang oleh pusat, pesawat yang ditunggu-tunggu justru menembak dan membunuh mereka. Alhasil semua pasukan tewas termasuk Duke dan hanya 3 orang yang berhasil selamat karena sembunyi disebuah sumur. Mereka yang selamat adalah Roadblock, Flint (D.J. Cotrona) dan Jaye (Adrianne Palicki). Channing Tatum hanya bermain sebentar saja di awal-awal film karena perannya hanya sedikit saja. Berbeda pada seri pertama sebelumnya yang menjadi tokoh utamanya.



Mereka sadar dan menyelidiki bahwa ada pengkhianat atas musibah ini dan tebakan mereka adalah sang Presiden Amerika Serikat sendiri. Mengingat hanya dialah yang mempunyai otoritas tertinggi untuk memerintahkan pembasmian GI Joe. Untuk memastikannya mereka berusaha mencari bukti dari rambutnya untuk dicek DNA. Usaha mereka didukung oleh pensiunan Jenderal Colton (Bruce Willis) yang merasa tidak setuju bila GI Joe bubar dan bahkan disudutkan sebagai pembangkang.



Storm Shadow (Byung Hun Lee) membebaskan Cobra yang diawetkan dalam suatu penjara khusus. Storm Shadow bertarung melawan Snake Eyes dan Jinx yang merupakan musuh bebuyutannya. Akhirnya terkuak kisah masa lalu Storm yang sebenarnya. Ternyata yang membunuh guru besarnya adalah Zartan dan bukan Storm seperti yang dituduhkan selama ini. Zartan sengaja melakukan hal itu untuk menjebak Storm dan menjadikannya sebagai pengikutnya. Storm sadar dan mau bekerja sama dengan Snake Eyes dan Jinx untuk membalas dendam kepada Zartan.



Rupa-rupanya Presiden Amerika itu adalah palsu dan merupakan penyamaran dari Zartan (Arnold Vosloo) yang merupakan kaki tangan Cobra. Sedangkan Presiden asli di sandera oleh kelompok Cobra. Presiden palsu mengumpulkan delapan negara pemilik nuklir dan mengadu dombanya bahkan sempat meluncurkan bom nuklir untuk saling menyerang antar negara walaupun sempat dibatalkan. Tujuan sebenarnya adalah Cobra ingin menguasai dunia dengan hanya satu-satunya yang memiliki bom nuklir. Delapan Negara tersebut kini sudah tidak memiliki nuklir lagi karena sudah diledakkan sendiri.



Pertarungan akhir antara GI Joe dan Cobra untuk memperebutkan tas koper berisi kunci peledak nuklir. Pertarungan dan tembak-menembak serta adu pedang terjadi antar dua kelompok dengan hingar bingar. Dan bisa ditebak bahwa kemenangan ada pada pihak GI Joe, namun sayangnya Cobra bisa lolos. Jadi bisa ditebak kemungkinan besar ada seri ketiga yang akan dibuat.



Dwayne Johnson bermain biasa saja dan memang tidak aneh karena yang diutamakan adalah tubuhnya yang kekar dan pertarungannya. Adrianne Palicki bermain juga biasa karena yang diunggulkan adalah kecantikan wajahnya. Bruce Willis bermain standard karena tidak banyak adegan yang dimainkannya.



Sebenarnya film ini sudah direncanakan beredar pada bulan Juni 2012 namun ditunda menjadi bulan Maret 2013. Hal ini karena banyak kekurangan yang ada sehingga perlu dilakukan penambahan dan perbaikan untuk adegan 3 Dimensi sehingga terlihat baik. Perlu diketahui bahwa tidak semua adegan mempunyai efek 3 Dimensi yang dapat dirasaka oleh mata penonton. Cara gampangnya untuk membedakannya adalah bila kaca mata dilepas dan gambar terlihat kabur maka adegan tersebut berefek 3 Dimensi namun bila gambar tetap terang maka adegan tersebut tidak berefek 3 Dimensi.



Yang menarik adalah adegan pertarungan di lereng gunung yang menggunakan tali temali. Selain itu adegan perkelahiannya monoton dan biasa saja. Bila diperlihatkan berbagai macam senjata modern namun sebenarnya ini merupakan suatu kemunduran dibandingkan seri pertama. Pada film ini senjata masih menggunakan peluru dengan percikan api manual. Pada seri pertama senjata sudah menggunakan model laser sinar biru tanpa percikan api. Adegan perkelahian dengan ilmu bela diri yang ditampilkan biasa saja dan tidak ada hal yang baru.



Cara berpakaian Gi Joe tidak menunjukkan kemodernan karena tampil seperti tentara biasa dengan seragam loreng. Berbeda pada seri pertama yang tampil modern dan lebih futuristik. Cerita yang ditampilkan oleh penulisnya biasa saja dan tidak ada konflik yang berarti. Alur cerita mudah ditebak dan terlalu sederhana. Film ini bolehlah dilihat sekedar sebagai tontonan yang menghibur walaupun masih kurang dibandingkan seri pertamanya.

sumber : review-filmku.blogspot.com


Star Trek Into Darkness



Sebuah karakter yang diangkat dari serial televisi fiksi futuristik yang hadir di Amerika pertama kali tahun 1966 dan dibuat oleh Eugene Wesley Roddenberry. Serial ini mampu dibuat sebanyak 726 episode dan menjadikannya tontonan televisi yang digemari tidak hanya di Amerika melainkan dari seluruh penjuru dunia. Dia meninggal pada tahun 1991 dan uniknya beberapa tahun kemudian abunya disebar diluar angkasa serta termasuk sebagai manusia pertama yang dimakamkan di luar angkasa.

Adegan awal dibuka dengan kejar-kejaran antara Kirk (Chris Pine) dengan suku nibiru. Kirk mencuri semacam lukisan yang disembah oleh suku Nibiru namun akhirnya dikembalikan juga. Sedangkan Spock (Zachary Quinto) berada dalam inti gunung yang akan meletus untuk mencegah letusan tersebut. Dia akan meledakkan bom untuk membekukan api sehingga tidak menghancurkan seluruh planet Nibiru. Sayangnya tali pengikat tubuhnya putus dan Spock terjebak di dasar gunung berapi. Dia pasrah dan rela mengorbankan dirinya agar misi tersebut berhasil. Di saat yang kritis, Kirk akhirnya berhasil menyelamatkan Spock. Namun upaya penyelamatan tersebut dianggap melanggar aturan karena memperlihatkan pesawat ke suku Nibiru yang masih primitive.

Setelah kembali dari misi maka mereka membuat laporan kepada laksamana Pike. Disini terjadi perbedaan, Kirk membuat laporan yang baik tetapi Spock membuat laporan yang jujur yaitu tentang pesawat Enterprise yang terlihat oleh suku Nibiru. Alhasil Kirk dibebas tugaskan. Hubungan Kirk dan Spock agak kacau karena hal ini. Kirk menganggap telah menolong nyawa Spock walaupun dengan cara melanggar aturan.

Terjadi teror di Starfleet cabang London yang dilakukan oleh John Harisson (Benedict Cumberbatch). Harisson adalah agen Starfleet juga. Latar belakangnya adalah orang yang hidup 300 tahun lalu dan dibekukan dalam tabung cryogenic serta disimpan dalam torpedo bersama rekan-rekannya sejumlah 72 orang. Harisson dibangunkan dari tidur panjangnya oleh laksamana Marcus untuk menjadi prajurit perang. Namun belakangan justru Harisson melawan balik.

Marcus mengumpulkan para petinggi Starfleet termasuk Pike dan Kirk yang telah diangkat menjadi pendamping Pike. Kirk curiga bahwa tujuan utama teror bukanlah London melainkan Starfleet pusat. Dan benar, belum selesai ngomong sudah terjadi serangan kepada mereka yang berada di ruang rapat. Pike dan pejabat lainnya tewas sedangkan Marcus berhasil selamat.

Harisson berhasil melarikan diri ke planet Klingon, sebuah planet yang sedang akan berperang melawan Starfleet. Kirk mendapat tugas dari Marcus untuk mengejarnya ke perbatasan Klingon yang disebut Kronos dan mengebomnya dengan torpedo. Terjadi pertentangan batin antara menembak atau tidak. Bila mengebom dengan torpedo dapat memicu perang dengan pihak Klingon.

Uhura (Zoe Saldana) berusaha bicara baik-baik dengan pihak Klingon akan maksud kedatangannya namun pihak Klingon acuh tak acuh dan bahkan akan membunuh Uhura. Tak diduga Harisson muncul dan menyerang prajurit Klingon serta membantu Uhura dan kawan-kawan. Selanjutnya, Harrison menyerahkan diri kepada Kirk. Ada pertentangan batin antara membunuhnya sesuai perintah dan sesuai dendam atas kematian Pike atau mengadilinya sesuai hukum. Akhirnya Kirk memutuskan untuk membawanya ke bumi dan menyerahkannya ke pengadilan untuk diadili. Walaupun ada kecurigaan Kirk yang menganggap gampang sekali Harisson menyerahkan diri, pasti ada maksud tertentu. Spock berusaha mengingatkan untuk tidak mendengarkan ocehan Harisson agar tidak terpengaruh.

Rupa-rupanya Marcus menyusul dengan pesawat Vengeance yang lebih cepat dan canggih. Dia menginginkan Harisson dibawa ke pesawatnya dan bahkan mengancam akan menghancurkan sekaligus pesawat Enterprise yang didalamnya ada Kirk dan kawan-kawannya termasuk putrinya sendiri bernama Carol. Salah satu cara melawan Marcus adalah menyusup ke dalam pesawat Vengeance dan mau tak mau Kirk bekerja sama dengan Harrison. Kirk melihat begitu sadisnya kelakuan Harisson sehingga makin curiga saja akan kebenaran ceritanya. Untuk itu dia memerintahkan menembaknya kepada Scotty bila telah selesai urusannya dengan Marcus. Harrison berhasil ditembak namun bisa bangun kembali dan membunuh Marcus. Dia menguasai pesawat Vengeance dan menginginkan barter antara Kirk yang luka-luka dengan torpedo yang berisi teman-temannya.

Spock sudah mengeluarkan tabung yang ada dalam torpedo dan mengirimkan pada harisson sebagai bom hingga meledak. Sayangnya pesawat Enterprise mengalami kerusakan karena inti core yang tidak sejajar sehingga jatuh ke bumi. Kirk mengorbankan dirinya untuk keselamatan semua kru dengan membetulkan inti core tersebut walaupun terkena radiasi. Pesawat Enterprise berhasil terbang kembali namun nyawa Kirk tidak bisa ditolong. Semua kru berkabung.

Harisson yang sebenarnya adalah Khan memposisikan jatuhnya pesawat Vengeance ke bumi dan merusak bangunan dan gedung yang ada. Khan berhasil lolos namun Spock tidak tinggal diam dan mengejarnya ke bumi. Terjadi pertarungan duel mati-matian dan Uhura muncul membantu sang kekasih di saat yang tepat. Khan berhasil dilumpuhkan dan dimasukkan kembali ke dalam tabung cryogenik serta disimpan disuatu tempat bersama teman-temannya.

Film ini ditampilkan dengan bagus dan baik. Adegan kejar-mengejar pesawat ruang angkasa cukup lumayan. Suasana ruang angkasa tidak banyak dieksplor bahkan sisi luar pesawat tidak ditampilkan secara detil bagian per bagian seperti film-film sebelumnya. Sang sutradara rupanya ingin lebih bermain dan fokus pada sang tokoh. Semua pemain dapat mengekpresikan dengan baik permainannya dan terutama Chris Pine yang mampu mengekspresikan wajah yang sedih, kecewa, marah dan gembira dengan prima.

Menurut penulis, kelemahan film ini ditemukan pada penggambaran pesawat yang pergi dengan kecepatan warp yang terlihat terlalu sederhana dengan bentuk siluet garis saja. Demikian juga pada saat tranportasi tubuh dari satu tempat ke tempat lainnya digambarkan dengan siluet garis. Seharusnya bisa dibikin yang lebih heboh dan menarik.


sumber : http://review-filmku.blogspot.com/

Rabu, 08 Januari 2014

World War Z


World War Z di mana Z adalah kepanjangan dari Zombie merupakan sebuah film yang dibuat berdasarkan novel berjudul sama. Novel tersebut dirilis pada tahun 2006 hasil buah tangan Max Brooks yang terinspirasi oleh novel berjudul The Good War, sebuah novel yang berkisah tentang perang dunia kedua. Kali ini Max membuatnya sebagai perang dunia melawan Zombi. Sebenarnya Max sudah membuat buku mengenai Zombi pada tahun 2003 dengan judul The Zombie Survival Guide maka seharusnya Brad Pitt yang merupakan produser membuatnya sebagai film terlebih dahulu. Justru sebaliknya The Zombie Survival Guide akan dibuat tahun depan.

Gerry Lane (Brad Pitt) beserta istri dan kedua anaknya perempuan sedang mengalami kemacetan yang panjang seperti layaknya suasana lalu lintas di kota besar Amerika. Namun ada yang sedikit beda hari itu yaitu banyaknya helikopter yang lalu lalang. Benar saja selang beberapa waktu terdengar kegaduhan dan teriakan orang-orang serta ledakan. Gerry dan keluarganya berusaha melarikan diri dan menyelamatkan diri dari musibah yang tidak diketahui penyebabnya. Dengan instingnya sebagai mantan anggota PBB yang pernah bertugas di daerah konflik maka dia berhasil mengetahui keadaan tersebut diakibatkan oleh Zombi. Zombi akan menggigit manusia dan dalam waktu 10 detik maka korban tersebut akan berubah menjadi Zombi baru. Hal tersebut terjadi secara terus-menerus sehingga menghasilkan Zombi-Zombi baru.

Gerry mendapat tugas baru dari mantan atasannya dengan imbalan keluarganya akan ditampung di kapal perang yang sekaligus sebagai tempat penampungan untuk orang-orang yang terpilih atau orang-orang penting. Tugasnya yaitu mendampingi dokter muda ahli virus mencari obat di Korea. Sayangnya pesawat kehabisan bensin dan mendarat disebuah pangkalan udara untuk mengisi bensin. Sayangnya sang dokter ceroboh dan kepleset sehingga pistol yang dibawanya menembak dirinya sendiri dan akhirnya tewas. Karena sudah tidak ada lagi yang bisa dikerjakan, Gerry berusaha mendapatkan informasi sebanyak-banyaknya tentang Zombi. Alhasil didapat informasi mengenai seseorang di Israel, berangkatlah mereka ke sana. Israel ternyata sudah memprediksi akan adanya Zombi sehingga dibangunlah tembok sebagai benteng mengelilingi negara tersebut. Tak disangka ternyata Zombi dapat memanjat tembok dan berhasil masuk ke Isarel dan mengakibatkan kehancuran.

Gerry ditemani oleh Segen (Daniella Kertesz) seorang wanita tentara Israel berhasil lolos dengan menumpang pesawat penumpang umum. Ternyata ada Zombie yang menyusup di dalam pesawat terbang sehingga terjadi kekacauan diudara. Gerry memutuskan untuk mengebom mereka dengan resiko pesawat hancur dan jatuh ke bumi. Untunglah Gerry dan Segen selamat serta bisa mencapai ke sebuah gedung pusat penelitian PBB.

Gerry mempunyai ide bagaimana kalau menggunakan virus untuk melawan virus sebagai kamuflase. Artinya virus tidak akan menyerang sebuah inang yang sudah tercemar virus. Sebelumnya dia mengamati bahwa ada orang-orang yang tidak diserang oleh Zombi yaitu orang yang sakit atau lemah. Hal itu masih mempunyai kendala karena siapa yang mau jadi bahan percobaan yang harus berhadapan dengan Zombi langsung. Kendala lain yaitu botol-botol virus disimpan di gedung sebelah yang berisi Zombi. Mau tak mau harus mengambil botol tersebut. Gerry berhasil menemukan ruangan penyimpan botol-botol virus. Sayangnya Gerry terjebak dalam ruangan karena ada Zombi yang sudah menunggu di pintu keluar.

Gerry memutuskan dirinya sendiri sebagai kelinci percobaan dengan menyuntikkan virus sehingga dirinya menjadi sakit. Benar, Zombi tidak bisa mendeteksi keberadaan Gerry. Percobaan berhasil. Akhirnya PBB memproduksi vaksin-vaksin itu yang digunakan sebagai kamuflase tetapi bukan sebagai obat untuk menyembuhkan Zombi. Vaksin-vaksin digunakan oleh manusia yang masih hidup untuk mempertahankan diri atau untuk melawan Zombi.

Bagi penonton yang suka film tentang Zombi atau mayat hidup, jangan berharap Zombi disini sama dengan yang pernah anda tonton sebelumnya. Jauhkanlah bayangan anda dengan tubuh berlumuran darah, wajah seram, memakan daging manusia, pakaian compang-camping dan haus darah serta berjalan dengan langkah tertatih-tatih. Ini adalah sebuah paradigma baru. Zombi di sini digambarkan dengan wajah yang tidak seram, pakaian juga normal, tidak memakan daging,  tidak haus darah dan cenderung hanya menggigit saja, bisa berlari cepat serta memanjat dinding. Zombi juga menjadi aktif bila mendengar suara, bukannya bau daging yang membuatnya mengejar manusia.

Film ini berbeda dengan novelnya sendiri. Dalam novelnya alur cerita berisi kesaksian dari orang yang pernah mengalami dari berbagai Negara setelah 10 tahun serangan Zombi. Sedangkan dalam filmnya cerita dimulai dengan serangan Zombi itu sendiri saat ini, bukan 10 tahun kemudian. Film ini disajikan dengan ketegangan sejak awal sampai akhir. Sifat ketegangan yang ditampilkan bukanlah horor atau misteri malam tetapi sebuah ketegangan thriller yang berpacu dengan waktu.

Special efek yang digunakan cukup lumayan dalam menghadirkan ribuan Zombie yang tumplek blek dan memanjat tembok atau gedung bertingkat. Penampakan pesawat terbang dengan manusia yang berhamburan keluar cukup membuat penonton bertahan napas dengan pikiran kapan ketegangan ini bisa berakhir.

Secara umum penampilan semua pemainnya lumayan. Hanya saja sang sutradara berusaha menyampaikan cerita tentang emosional keluarga dan keterikatannya kurang maksimal. Ada beberapa hal yang menjadi pertanyaan seperti misalnya kenapa Zombi bisa bekerja sama memanjat tembok. Kenapa Zombi tidak memangsa korbannya melainkan menggigit saja lalu meninggalkannya. Sebagai sebuah tontonan film ini cukup lumayan.

http://review-filmku.blogspot.com/

Resensi film White House Down

Jangan kaget bila film buatan Hollywood mengangkat tema tentang Presidennya atau pejabat-pejabat di lingkungan gedung putih dengan intrik politik tingkat tingginya. Jangan berharap film dengan tema seperti itu akan dibuat oleh dunia perfilman Indonesia, bisa jadi tidak akan lulus sensor. Sayangnya film ini dibuat mirip dengan Die Hard nya Bruce Willis yang menceritakan seseorang yang terjebak dalam suatu gedung yang dikuasai teroris dan melakukan perlawanan seorang diri.

John Cale (Channing Tatum) adalah seorang agen rahasia yang menjadi pengawal juru bicara Presiden Amerika. Statusnya telah bercerai dan mempunyai anak perempuan bernama Emily (Joey King) yang tinggal dengan istrinya. Cale ingin meningkatkan karirnya dengan melamar kerja sebagai agen rahasia untuk menjadi pengawal Presiden. Pada saat wawancara di gedung putih, Cale membawa serta Emily untuk diikutkan dalam tour keliling gedung putih. Sayangnya Cale gagal dalam wawancara tersebut.

Sosok Presiden Amerika digambarkan mirip dengan Barack Obama yang berkulit hitam dan kali ini bernama Presiden James Sawyer (Jamie Foxx). Cara bicara dan gaya bahasanya mirip sekali dengan Barack Obama dan juga digambarkan cinta perdamaian. Suasana gedung putih juga ditampilkan semirip mungkin dengan aslinya, tata ruang dan dekorasi betul-betul meyakinkan.

Sekelompok orang memasuki gedung putih dan meledakkan bom ditengah-tengah gedung. Timbul kekacauan dan ketakutan seluruh penghuni tak terkecuali Presiden. Beberapa orang berhasil menyelamatkan diri namun sebagian orang terjebak dalam gedung dan dijadikan sandera oleh mereka termasuk Cale. Sedangkan Emily sendiri pada saat itu sedang berada di toilet. Dengan handphonenya Emily sempat merekam orang-orang yang membawa senjata itu dan menguploadnya ke You Tube. Masyarakat akhirnya tahu bahwa yang menyerang gedung putih bukanlah teroris melainkan warga Amerika sendiri.

Presidenpun berusaha menyelamatkan diri dengan bersembunyi di bunker bersama kepala agen rahasia Walker (James Woods). Secara tak diduga Walker berkhianat dan menodongkan pistol ke arah Presiden. Karena Presiden dianggap tewas maka dilantiklah Wakil Presiden menjadi Presiden berdasarkan undang-undang yang berlaku. Walker berhasil meluncurkan bom roket ke udara dan ternyata tujuannya adalah pesawat Air Force One yang dinaiki oleh Wakil Presiden. Dan sesuai undang-undang yang berhak menjadi Presiden adalah juru bicara Presiden yaitu Raphelson (Richard Jenkins). Raphelson memerintahkan untuk menyerang gedung putih walaupun di tentang oleh bawahannya yang bernama Finnerty (Maggie Gyllenhaal).

Cale berhasil meloloskan diri dari ruang penyanderaan dan berusaha mencari anaknya. Sayangnya justru Emily ganti tertangkap dan dimasukkan ke ruang sandera. Cale berusaha menolong sang Presiden dan disisi lain juga ingin menolong putrinya. Ternyata Walker berhasil mengaktifkan bom nuklir yang ditujukan untuk menyerang negara-negara lain. Cale berjibaku untuk menggagalkan rencana itu.

Presiden berhasil selamat dan sang putri juga selamat akan tetapi dalangnya ternyata baru diketahui diakhir film yaitu sang juru bicara alias Raphelson. Motifnya adalah tidak setuju dengan keputusan Presiden yang melakukan perdamaian dengan negara-negara lain sehingga melakukan kudeta bersama kepala agen rahasia Walker. Ketika Raphelson dilantik menjadi Presiden maka dia memegang kode untuk peluncuran bom nuklir yang langsung diberikan kepada Walker. Walkerpun dengan mudah bisa mengaktifkan bom nuklir.

Yang patut diacungi jempol adalah permainan Joey King yang mampu berakting bagus padahal usianya masih anak-anak. Ekspresi wajahnya yang menggambarkan kegembiraan maupun ketakutan serta keberanian dapat terlukis dengan baik. Untuk pemain lainnya bisa dikatakan berakting dengan standard-standard saja.

Adegan perkelahian dan tembak-menembak juga dilakukan biasa-biasa saja dan tidak istimewa mengingat sudah sering ditampilkan kepahlawanan seseorang di waktu dan tempat yang salah. Film ini mempunyai durasi yang panjang yaitu 2 jam lebih. Dengan menonton film ini setidaknya anda akan tahu bila salah satu Presiden Amerika pernah selingkuh dengan salah satu artis terkenal Marilyn Monroe melewati lorong rahasia di gedung putih. Entah benar entah tidak.


sumber : http://review-filmku.blogspot.com/